Kamis, 04 November 2021
Rabu, 03 November 2021
Selasa, 02 November 2021
Jumat, 29 Oktober 2021
Oktober 29, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Lingkungan, Wakatobi, Wisata
No comments
Pengembangan kawasan wisata tersebut, secara langsung dapat memberikan kontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem wilayah di Kabupaten Wakatobi. Karena dengan menjaga kelestarian lingkungan tersebut maka Kabupaten Wakatobi dapat memperoleh devisa dari kunjungan para wisatawan.
Jenis kegiatan pariwisata yang dapat dikembangkan di Kabupaten Wakatobi adalah pariwisata laut/ bahari berupa panorama pantai dan laut, potensi terumbu karang, ombak untuk olah raga air serta dinamika kehidupan nelayan, wisata alam (panorama pegunungan, goa-goa bawah tanah), wisata seni dan budaya serta wisata buatan lainnya.
Rencana pengembangan kegiatan pariwisata untuk wilayah Kabupaten Wakatobi pada dasarnya mengintegrasikan rencana yang telah disusun saat ini. Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Wakatobi dan rencana zonasi taman nasional laut Kabupaten Wakatobi.
Rencana pengembangan kawasan peruntukkan pariwisata di Kabupaten Wakatobi diarahkan untuk:
a. Mengembangkan dan membangun kawasan pariwisata bahari terpadu di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Wakatobi, dengan mengikutsertakan masyarakat setempat, pemanfaatan potensi yang tersedia seperti pembuatan barang souvenir;
b. membangun dan pengembangkan kawasan wisata bahari secara profesional, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang ada;
c. mengembangkan dan meningkatan sarana penginapan berupa resort yang saat ini telah tersedia, untuk menunjang wisata seperti di Wanci (P. Wangi-Wangi), Pulau Hoga dan Pulau Kaledupa, Pulau Tolandono di wilayah Kecamatan Tomia;
d. mengembangkan sarana dan prasarana penunjang sektor pariwisata (wisata buatan);
e. mengembangan kegiatan kebudayaan masyarakat Kepulauan Wakatobi;
f. mempertahankan situs-situs sejarah seperti makam, benteng, rumah ibadah;
g. menetapkan kalender wisata tahunan dengan memanfaatkan eventevent acara laut, dan gelar budaya lainya.
Rabu, 27 Oktober 2021
Oktober 27, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Lingkungan, Wakatobi, Wisata
No comments
Pengembangan kawasan wisata tersebut, secara langsung dapat memberikan kontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem wilayah di Kabupaten Wakatobi.
Karena dengan menjaga kelestarian lingkungan tersebut maka Kabupaten Wakatobi dapat memperoleh devisa dari kunjungan para wisatawan.
Jenis kegiatan pariwisata yang dapat dikembangkan di Kabupaten Wakatobi adalah pariwisata laut/ bahari berupa panorama pantai dan laut, potensi terumbu karang, ombak untuk olah raga air serta dinamika kehidupan nelayan, wisata alam (panorama pegunungan, goa-goa bawah tanah), wisata seni dan udaya serta wisata buatan lainnya. Rencana pengembangan kegiatan pariwisata untuk wilayah Kabupaten Wakatobi pada dasarnya mengintegrasikan rencana yang telah disusun saat ini.
Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Wakatobi dan rencana zonasi taman nasional laut Kabupaten Wakatobi.
Rencana pengembangan kawasan peruntukkan pariwisata di Kabupaten Wakatobi diarahkan untuk:
a. Mengembangkan dan membangun kawasan pariwisata bahari terpadu di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Wakatobi, dengan mengikutsertakan masyarakat setempat, pemanfaatan potensi yang tersedia seperti pembuatan barang souvenir;
b. membangun dan pengembangkan kawasan wisata bahari secara profesional, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang ada;
c. mengembangkan dan meningkatan sarana penginapan berupa resort yang saat ini telah tersedia, untuk menunjang wisata seperti di Wanci (P. Wangi-Wangi), Pulau Hoga dan Pulau Kaledupa, PulauTolandono di wilayah Kecamatan Tomia;
d. mengembangkan sarana dan prasarana penunjang sektor pariwisata (wisata buatan);
e. mengembangan kegiatan kebudayaan masyarakat Kepulauan Wakatobi;
f. mempertahankan situs-situs sejarah seperti makam, benteng, rumah ibadah;
g. menetapkan kalender wisata tahunan dengan memanfaatkan eventevent acara laut, dan gelar budaya lainya.
Selasa, 19 Oktober 2021
Oktober 19, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Saluran distribusi yang digunakan oleh para penenun selama ini, umumnya masih sangat sederhana, dimana para pembeli yang membutuhkan datang langsung ke tempat penenun secara individu.
Belum ada tempat khusus yang disediakan untuk memasarkan produk tersebut, baik yang disediakan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah.
Namun, untuk tenunan yang berasal dari Pulau Kaledupa sudah menggunakan saluran distribusi tingkat dua, yaitu dari penenun ke pelanggan pengecer yaitu kios-kios tenun, seperti yang ditemukan di pasar Meomeo Kota Baubau
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.
Oktober 19, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Secara umum, harga produk tenunan lokal Waktobi berkisar antara Rp.200.000 hingga Rp.800.000. Harga-harga tersebut masih terkesan mahal kalau dibandingkan dengan harga tenunan lokal dari Kota Baubau dan beberapa daerah lainnya.
Harga tenunan lokal di tiga pulau: Binongko, Tomia, dan Wangi-Wangi hanya berkisar antara Rp.200.000,- sampai Rp.700.000, namun di Pulau Kaledupa, ada salah satu motif tenun yang harganya mencapai Rp.800.000,-
Di Kota Baubau, tenunan Wakatobi khususnya dari Kaledupa sudah menjadi produk yang dipasarkan dengan harga yang termahal diantara semua jenis dan motif produk tenunan lokal yang ada di pasar Meomeo.
Di pasar tersebut, tenunan lokal Wakatobi (Kaledupa) dipasarkan dengan harga Rp.600.000,- sedangkan tenunan lokal lainnya hanya dengan harga tertinggi sebesar Rp.400.000,-.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.
Oktober 19, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Karena secara umum pemasaran tenunan lokal Wakatobi masih terbatas pada wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dan khususnya di Wakatobi sendiri dan Kota Baubau serta Kota Kendari.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.
Senin, 18 Oktober 2021
Oktober 18, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Kualitas tenunan lokal Wakatobi tidak kalah dengan tenunan lokal dari daerah lain di nusantara ini, karena dikerjakan oleh mereka yang sudah memiliki pengalaman menenun yang sudah cukup lama.
Hanya saja hingga saat ini masih dikerjakan secara manual dengan peralatan tradisional. Salah satu indikator yang menunjukkan kualitas tenunan lokal Wakatobi adalah dari aspek harga ditawarkan.
Di mana, walaupun ditawarkan dengan harga mahal, namun para customer tetap memburunya, khususnya para wisatawan.
Walaupun demikian, kualitas tetap harus dipelihara dan ditingkatkan, karena saingan di masa datang akan semakin bermunculan dengan kualitas yang lebih baik pula.
Untuk itu, maka peralatan yang digunakan harus lebih ditingkatkan kualitas dan daya kerjanya, sehingga akumulasi biaya produksinya menjadi rendah.
Dengan demikian, maka harga yang ditawarkan menjadi rendah, sehingga produk tenun yang dihasilkan oleh para penenun di Wakatobi bisa bersaing dengan produk tenunan lokal yang berasal dari daerah lain dan bisa dijangkau dengan daya beli masyarakat sekitarnya.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.
Minggu, 17 Oktober 2021
Oktober 17, 2021
Kabar MEAKA
Binongko, Ekonomi, Paleka, Tenun, Togo Binongko, Wakatobi, Wisata
No comments
Tenunan dengan Motif Paleka adalah tenunan yang hampir tidak ada bedanya dengan produk tenunan modern dari hasil pabrikan yang mudah didapatkan di toko toko modern saat ini.
Sepintas kain ini kalau disandingkan dengan kain yang ada di toko kain modern, maka sulit untuk membedakannya. Namun, setelah diraba dan diamati baru ketahuan bahwa dia adalah hasil tenunan lokal. Produk ini hanya didapatkan di Kelurahan Popalia Pulau Binongko.
Dari kasus ini kita bisa mengambil hikmah pelajaran bahwa ternyata para penenun lokal di Wakatobi dengan tangan terampilnya dan dikerjakan secara manual mereka mampu menghasilkan produk tenunan yang memiliki kualitas tinggi.
Terbukti bahwa walaupun motif ini ditawarkan dengan harga tinggi sebesar Rp.400.000, namun para pembeli tidak enggan membelinya, sementara produk pabrikan yang ada di toko dengan motif yang sama ditawarkan hanya dengan harga paling tinggi Rp.100.000.
Menurut penenunnya sudah banyak lembar yang dihasilkan tapi semuanya sudah laku dan para pembelinya adalah orang luar daerah.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.
Oktober 17, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, HH, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Di Pajam Kaledupa terdapat satu motif yang pada dasarnya mirip katamba namun kelihatannya lebih sederhana, karena dia berbentuk huruf H, sehingga kain tenunan ini disebut dengan Motif HH.
Walaupun motifnya sederhana dan warnanya juga sedikit gelap tidak seterang motif lainnya, karena dia menggunakan bahan pewarna alam dengan cara tenun yang sangat hati-hati dan dikerjakan oleh penenun yang sudah punya pengalaman menjadikan motif ini nampak berkualitas.
Karenanya motif ini merupakan salah satu produk tenunan Wakatobi yang termahal dengan harga tawaran saat ini adalah Rp.800.000.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Oktober 17, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Katamba, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Tenunan dengan Motif Katamba merupakan produk tenunan lokal yang umurnya bersamaan dengan lejja.
Kalau lejja lebih diperuntukan untuk kaum perempuan, maka katamba lebih diperuntukan untuk kaum laki-laki.
Berdasarkan warnanya, ada katamba yang disebut dengan Katamba Jali-Jalima.
Dikatakan Jali-Jalima karena warna yang digunakan adalah seperti warna buah delima.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Oktober 17, 2021
Kabar MEAKA
Bida, Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Motif bida umumnya tidak memiliki banyak variasi warna dan ada yang hanya satu Warna. Ada juga bida bunga yaitu kain tenun bida yang dihiasi dengan bunga.
Selain Bida bunga ada juga kain tenun yang disebut dengan Bida Kapipi yang hanya memiliki dua warna terang yaitu hijau dan kuning.
Ada juga Bida biasa, yakni kain bida yang diproduksi adalah bermotif dan warna.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Oktober 17, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Kanainde, Lejja, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Motif lain yang hampir sama dengan lejja adalah Kanainde.
Kalau lejja memiliki warna yang agak jarang antara satu warna dengan warna lainnya, maka kanainde jaraknya agak rapat dan sama besar antara warna. Kanainde umumnya memiliki warna-warna yang cerah.
Perbedaan motif antara lejja dan kanainde: lejja memiliki ruas warna yang lebih lebar sedangkan kanainde sebaliknya hanya memiliki ruas warna yang lebih sempit.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Oktober 17, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Lejja, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Lejja merupakan salah satu motif tertua yang ditenun oleh para leluhur orang Buton, di mana Wakatobi merupakan salah satu wilayah kekuasaannya.
Terungkap dalam sejarah dan masih bisa disaksikan hingga saat ini, seperti para petugas sara masjid keraton Wolio masih menggunakan baju kebesaran dari kain lejja ini.
Lejja memiliki beberapa jenis, di antaranya Lejja Juka. Lejja ini ditemukan di Popalia Togo Binongko
Dalam keseharian, tenunan lejja ini lebih diperuntukan bagi kaum perempuan. Karena lejja merupakan motif yang sangat indah dan cantik jika dipakai oleh kaum perempuan. Sehingga dalam lagu dan pantun Wakatobi mengibaratkan lejja dengan perempuan cantik, seperti: Ara dhi walejja samata paka kumeleng kajiama; Walejja non toogemo.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Jumat, 15 Oktober 2021
Oktober 15, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wangi-Wangi, Wangi-Wangi Selatan, Wisata
No comments
Jumlah penenun yang aktif di Wangi-Wangi adalah sebagai berikut:
Tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah penenun di Wangi-Wangi 35 orang.
Jumlah penenun di Wilayah merupakan yang paling sedikit dibanding tiga wilayah lainnya yaitu Kaledupa, Tomia dan Binongko.
Hal ini dapat disebabkan karena Wangi-Wangi merupakan ibu kota Kabupaten yang menjadi pusat adminstrasi, pendidikan dan perdagangan, sehingga terbuka lapangan kerja yang banyak bagi kaum wanita, seperti menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara), dan wira usaha disektor perniagaan.
Kondisi dapat menjadi menyebab kaum wanita di Wangi-Wangi kurang tertarik pada pekerjaan atau kegiatan menenun.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Oktober 15, 2021
Kabar MEAKA
Binongko, Ekonomi, Tenun, Togo Binongko, Wisata
No comments
Jumlah penenun di Binongko tercatat sebagai berikut:
Tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah penenun di Binongko yang masih aktif menenun 93 orang.
Jumlah penenun di Wilayah ini merupakan yang paling banyak kedua setelah Kaledupa.
Meskipun Binongko bukan merupakan wilayah pusat pemerintahan Kerajaan, jumlah penenun di Binongko tergolong cukup banyak.
Kondisi ini dapat disebabkan karena sebagai wilayah yang paling terluar dari Wakatobi, memiliki akses sangat sulit dengan daerah lain, kondisi alam yang berbatuan menyebabkan para wanita di Wilayah ini sebahagian besar lebih suka menggunakan waktu luangnya untuk menenun, dibanding aktifitas lain.
Bagi para wanita di Binongko menenun bukan hanya sekedar melestarikan budaya, tetapi merupakan pencaharian yang lebih menguntungkan dibanding berladang.
Penenun di Wilayah ini terus-menerus meningkatkan kreativitasnya dengan belajar berkelompok, mengikuti pelatihan dan pameran secara mandiri, tidak bergantung pada pemerintah Daerah. Karenanya kreativitas ragam corak dan warna kain tenun/sarung Binongko banyak dan pesat perkembangannya.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Oktober 15, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Pajam, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Kondisi merupakan hal ini wajar karena dalam sejarah tenun di Wakatobi, Kaledupa khususnya Pajam merupakan, desa tertua yang diyakini sebagai asal muasal peradaban Kerajaan Kaledupa di wilayah Pulau Kaledupa, Di dalam wilayah Benteng Palea yang ada di Pajam.
Budaya tenun khas kaledupa hidup dan lestari secara turun temurun. Karena kelestariannya ini sehingga pemerintah Daerah Wakatobi menetapkan Desa Pajam sebagai pusat kerajinan tenun atau Weaving Handicraft Center yang menjadi salah satu kawasan Ecotourism andalan Wakatobi.
Penenun di Desa Pajam menguasai keterampilan tenun mereka secara turun temurun.
Para gadis-gadis Desa Palea di zaman Kerajaan Kaledupa, wajib mewarisi keterampilan tenun sebagai bekal bagi mereka saat berkeluarga.
Budaya ini sampai saat sekarang terus dijaga, para wanita (ibu-ibu) di Pajam mengajarkan cara menenun, kepada anak-anak mereka khususnya wanita sejak kecil, anak-anak usia 4-9 tahun membantu ibu mereka dalam melalukan oluri (menyusun benang).
Sementara anak-anak usia 10 tahun keatas sudah ada yang bisa menenun. Dari sinilah sumber penghasilan mereka selain dari bertani.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Oktober 15, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments
Pada Masyarakat Wakatobi, menenun merupakan suatu rangkaian upacara tersendiri, yang harus dilakukan secara tertib berdasarkan urutan yang diwarnai dengan nafas budaya kemudian menjelma menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Pada zaman dahulu untuk menenun kain dari jenis-jenis tertentu tidak boleh dilakukan di sebarang waktu.
Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum kegiatan menenun dimulai. Hal ini tidaklah mengherankan bila mengingat bahwa beberapa jenis kain ternyata mempunyai fungsi-fungsi yang khusus.
Pembuatan kain tenun dalam masyarakat Wakatobi melalui 3 tahapan utama yaitu, purua (memintal), oluri (menyusun benang) dan tenda (proses penenunan).
Purua (memintal) merupakan tahap gabungan dari beberapa gulungan benang yang di pindahkan ke gulungan yang lebih besar, oliru (menyusun benang) merupakan tahap peletakan atau penyusunan benang pada alat-alat tenun, dan tenda (proses penenun) yaitu proses dalam pembuatan kain/sarung.
Pada awalnya masyarakat Wakatobi, memintal sendiri dari kapas, dan mewarnainya dengan pewarna alami. Namun saat ini, banyak masyarakat menenun, menggunakan benang dan pewarna sebagian besar dibuat oleh pabrik dan dibeli di toko.
Benang pabrik yang gunakan olek para penenun di Wakatobi umum ada 3 tingkatan yaitu, 1. Masres yang merupakan benang dengan kualitas paling tinggi, lebih halus dan harganya juga mahal. 2. Airlangga merupakan benag kwalitas menengah dan 3. Benang merek Extra yang merupakan benang dengan kualitas paling bawah dan harganya murah. Jenis benang inilah yang banyak digunakan karena harganya mudah dijangkau oleh para penenun, dengan variasi warna yang beraneka ragam namun agak kasar.
Saat ini pengunaan warna alami pada benang yang beberapa waktu lalu mulai tinggalkan, kini di galakkan kembali sebab benang dengan warna alami tidak mudah luntur, warnanya unik dan harganya lebih mahal karena proses pewarnaannya lebih rumit.
Pewarna alami yang biasa digunakan oleh penenun di Wakatobi diantaranya adalah daun indigofera (tarum atau nila), daun pacar, delima, daun mangga, kunyit atau kayu sappang.
Daun indigo digunakan untuk menghasilakan warna biru tua dan hitam, daun pacar dan delima digunakan untuk menghasilkan warna merah, kunyit digunakan untuk menghasilkan warna kuning, sedangkan kayu sappang digunakan untuk menghasilkan warna pink atau merah bata.
Kain/sarung tenun Wakatobi untuk wanita dan pria memiliki ciri khas yang berbeda, kain/sarung dengan garis benang vertikal digunakan oleh wanita dan motif kotak-kotak digunakan oleh pria.
Setiap motif memiliki namanya masing-masing, seperti Koto-koto, Leja, Jali-jalima, Bansakaluku liri, Kasopa dan Pa’a.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018



