Pada Masyarakat Wakatobi, menenun merupakan suatu rangkaian upacara tersendiri, yang harus dilakukan secara tertib berdasarkan urutan yang diwarnai dengan nafas budaya kemudian menjelma menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Pada zaman dahulu untuk menenun kain dari jenis-jenis tertentu tidak boleh dilakukan di sebarang waktu.
Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum kegiatan menenun dimulai. Hal ini tidaklah mengherankan bila mengingat bahwa beberapa jenis kain ternyata mempunyai fungsi-fungsi yang khusus.
Pembuatan kain tenun dalam masyarakat Wakatobi melalui 3 tahapan utama yaitu, purua (memintal), oluri (menyusun benang) dan tenda (proses penenunan).
Purua (memintal) merupakan tahap gabungan dari beberapa gulungan benang yang di pindahkan ke gulungan yang lebih besar, oliru (menyusun benang) merupakan tahap peletakan atau penyusunan benang pada alat-alat tenun, dan tenda (proses penenun) yaitu proses dalam pembuatan kain/sarung.
Pada awalnya masyarakat Wakatobi, memintal sendiri dari kapas, dan mewarnainya dengan pewarna alami. Namun saat ini, banyak masyarakat menenun, menggunakan benang dan pewarna sebagian besar dibuat oleh pabrik dan dibeli di toko.
Benang pabrik yang gunakan olek para penenun di Wakatobi umum ada 3 tingkatan yaitu, 1. Masres yang merupakan benang dengan kualitas paling tinggi, lebih halus dan harganya juga mahal. 2. Airlangga merupakan benag kwalitas menengah dan 3. Benang merek Extra yang merupakan benang dengan kualitas paling bawah dan harganya murah. Jenis benang inilah yang banyak digunakan karena harganya mudah dijangkau oleh para penenun, dengan variasi warna yang beraneka ragam namun agak kasar.
Saat ini pengunaan warna alami pada benang yang beberapa waktu lalu mulai tinggalkan, kini di galakkan kembali sebab benang dengan warna alami tidak mudah luntur, warnanya unik dan harganya lebih mahal karena proses pewarnaannya lebih rumit.
Pewarna alami yang biasa digunakan oleh penenun di Wakatobi diantaranya adalah daun indigofera (tarum atau nila), daun pacar, delima, daun mangga, kunyit atau kayu sappang.
Daun indigo digunakan untuk menghasilakan warna biru tua dan hitam, daun pacar dan delima digunakan untuk menghasilkan warna merah, kunyit digunakan untuk menghasilkan warna kuning, sedangkan kayu sappang digunakan untuk menghasilkan warna pink atau merah bata.
Kain/sarung tenun Wakatobi untuk wanita dan pria memiliki ciri khas yang berbeda, kain/sarung dengan garis benang vertikal digunakan oleh wanita dan motif kotak-kotak digunakan oleh pria.
Setiap motif memiliki namanya masing-masing, seperti Koto-koto, Leja, Jali-jalima, Bansakaluku liri, Kasopa dan Pa’a.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Jumat, 15 Oktober 2021
Oktober 15, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Wakatobi, Wisata
No comments


0 comments:
Posting Komentar