Rabu, 03 November 2021
Senin, 18 Oktober 2021
Oktober 18, 2021
Kabar MEAKA
Binongko, Boke, Ekoomi, Kaledupa, Kaledupa Selatan, Tenun, Togo Binongko, Tomia, Tomia Timur, Wakatobi, Wangi-Wangi, Wangi-Wangi Selatan
No comments
Tenunan dengan Motif Boke (Ikat) merupakan produk tenunan yang paling rumit proses produksinya. Karena para penenun harus mengikat terlebih dahulu sebagian bahan baku benangnya lalu diwarnai sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam jangka waktu tertentu biasanya sampai satu minggu baru bisa dilakukan proses selanjutnya. Proses menenunnya pun harus lebih teliti untuk menentukan bentuk motif bokenya.
Saat ini, produk dengan Motif Boke merupakan produk tenun unggulan dan banyak dicari para pembeli, baik lokal maupun dari luar daerah Wakatobi termasuk para wisatawan. Motif ini juga banyak dijadikan sebagai cendramata bagi tamu-tamu pemerintah daerah. Karena rumitnya proses tenunan motif ini, maka harganyapun berkisar antara Rp.400.000 hingga jutaan ribu rupiah.
Tenunan dengan Motif Boke di Wakatobi memiliki banyak jenis. Setiap pulau besar di Wakatobi memilik ciri khas Boke yang dihasilkan. Di Pulau Binongko, selain menghasilkan boke yang disebut dengan Boke Biasa, tetapi juga menghasilkan Boke yang menjadi ciri khasnya adalah apa yang disebut dengan Boke Tamba.
Disebut dengan Boke Tamba karena bentuk warna bokenya adalah menyerupai tanda tamba dalam simbol matematika.
Boke yang lebih rumit adalah Boke mengkombinasikan Boke Biasa dengan Boke Tamba dengan warna dasar hitam, sementara bokenya berwarna putih.
Ciri khas boke yang lain ditemukan di Pulau Tomia mengambil motif lejja kemudian ditambahkan boke diantara warna lejja.
Sementara tenunan dengan Motif Boke dengan warna-warna yang lebih terang ditemukan di Pulau Kaledupa, khususnya di Pajam.
Boke Kaledupa dengan empat jenis warna dasar, yaitu biru dengan boke putih dan hitam, warna dasar hijau dengan warna boke kuning dan hitam, warna dasar hitam dengan warna boke merah, dan warna dasar hitam dengan warna boke kuning
Ditemukan jenis boke lain yang diproduksi di Pajam Kaledupa yaitu disebut Boke PAA Airlangga. Jenis boke tersebut dengan warna dasar ungu dan bokenya hitam dan putih.
Seperti halnya di tiga pulau yang telah dijelaskan, maka di Pulau Wangi Wangi juga memiliki ciri khas tenunan motif boke tersendiri yang sangat berbeda dengan di tiga pulau lainnya. Boke yang ada di pulai ini disebut dengan Sobi.
Motif Boke ini memiliki warna dasar hijau dengan boke berwarna putih dan kuning.
Sama dengan di tiga pulau lainnya, bahwa harga yang ditawarkan relatif sama yaitu berkisar antara Rp.400.000 sampai dengan jutaan.
Jumat, 15 Oktober 2021
Oktober 15, 2021
Kabar MEAKA
Ekonomi, Tenun, Tomia, Tomia Timur, Wakatobi
No comments
Jumlah penenun yang aktif di Tomia saat ini adalah sebagai berikut:
Tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah penenun di Tomia yang masih aktif menenun 58 orang. Jumlah penenun di Wilayah ini merupakan yang paling banyak ketiga setelah Binongko.
Kondisi ini disebabkan para wanita di Tomia lebih menyukai menggeluti industri makanan khususnya yang berbahan dasar ikan, sebab bahan bakunya lebih mudah didapat dibanding bahan baku tenunan.
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018
Senin, 11 Oktober 2021
Oktober 11, 2021
Kabar MEAKA
Serba-Serbi, Tomia, Tomia Timur, Wakatobi, Wisata
No comments
Minggu, 10 Oktober 2021
Oktober 10, 2021
Kabar MEAKA
Serba-Serbi, Tomia, Tomia Timur, Wakatobi, Wisata
No comments
Sabtu, 25 September 2021
September 25, 2021
Kabar MEAKA
Benteng, Encik Sulaiman, Kahianga, Suo-Suo, Tomia Timur, Wisata
No comments
Benteng Suo-Suo berada dibelakang Moori tepatnya di 05° 45.290’ LS dan 123°56. 928’ BT.
Di sini terdapat pintu masuk yang disebut Lawa 1 berukuran panjang 400 cm, tinggi 240 cm,tebal 700 cm dan lebar 200 cm. Kemudian Lawa 2 di 05° 45.295’ LS dan 123°56. 908’ BT.
Lawa ini berukuran panjang 400 cm, tinggi 240 cm, tebal 700 cm, lebar 200 cm. Lalu Lawa 3 di 05° 45.254’ LS dan 123°56. 897’ BT.
10 meter dari lawa ini ada bekas mesjid yang masih ada batu fondasinya tepatnya di 05° 45.256’ LS dan 123°56. 883’ BT yang panjangnya 1000 cm, lebar 1000 cm.
Benteng Suo-Suo merupakan benteng tua di Pulau Tomia di mana di dalamnya terdapat kuburan penyiar agama Islam di Pulau Tomia yang bernama Sibatara (Encik Sulaiman).
September 25, 2021
Kabar MEAKA
Encik Sulaiman, Kahianga, Tomia Timur, Wisata
No comments
Pernah mendengar orang memanggil dengan sebutan Encik di Wakatobi?
Rasanya tidak ya. Sepertinya itu salah satu sebutan yang akrab bagi orang Melayu.
Nah, namun di Pulau Tomia, sebutan ini tidak asing bagi sebagian orang.
Apa buktinya?
Di hutan adat Desa Kahianga Kecamatan Tomia Timur ditemukan makam yang dikenal dengan Makam Ince (Encik) Sulaiman. Sebagian masyarakat Tomia menyebutnya dengan sebutan Moori (Tuan).
Jarak dari
desa kurang lebih 30 meter. Tepatnya makam ini berada pada titik 05° 45.240’ LS dan 123°56. 943’ BT.
Memiliki ukuran yakni panjang 440 cm, lebar 270 cm, tinggi 110 cm, dan
tebal 100 cm.
Makam ini disemen pada tahun 1965. Selanjutnya ditehel
pada tahun 2001. Di belakang kuburan ada dinding benteng Suo-Suo.
Di
samping itu juga banyak pohon besar yang hidup di sekitar makam, mulai dari beringin, kapuk, rita, jati, nipah dan ketapang dan pohon besar
lainnya. Sehingga suasana di makam ini terasa sejuk karena ditutupi oleh
pohon besar.
Pertanyaannya: Kok ada Encik di Tomia?
Ada yang menyebutnya beliau, Encik Sulaiman merupakan tokoh yang melakukan syiar Islam di Pulau Tomia.
Beliau, Sang Encik dari mana asalnya?
Tidak diketahui pasti, namun merujuk pada sebutan Encik-nya, dapat dilacak dari beberapa sumber informasi.
Dari artikbbi disebutkan bahwa Encik artinya: 1 kata sapaan (sebutan) untuk orang laki-laki atau perempuan yg sedang kedudukannya atau yg tidak dikenal; 2 kata sapaan (sebutan untuk guru wanita); 3 kakak.
Sementara itu, dari sumber Bukit Tinggi Van Agam, menyebutkan bahwa,
Encik, digunakan untuk
memanggil perempuan yang belum menikah. Berlainan dengan orang Malaya
(Tanah Semenanjung/ Malaysia) yang menggunakan panggilan ini untuk
lelaki.
Dengan demikian, apakah Sang Encik Sulaiman berasal dari Tanah Semenanjung/Malaya? Mungkin perlu penelusuran lebih lanjut.
Jumat, 24 September 2021
September 24, 2021
Kabar MEAKA
Benteng, Rambi Randa, Tomia Timur, Wawotimu, Wisata
No comments
Salah satu obyek wisata unggulan di Desa Wawotimu Kecamatan Tomia Timur adalah Benteng Rambi Randa.
Benteng Rambi Randa adalah salah satu benteng tua yang ada di Desa Wawotimu.
Hal yang menarik dari Benteng Rambi Randa adalah ketika kita berada di dalamya terdapat bekas masjid dan yang tertinggal hanyalah fondasinya yang berasal dari susunan batu yang rapi, dari atas fondasi tersebut kita dapat melihat keindahan laut dan pemandangan di sekelilingnya yang seakan menggoda iman untuk tetap berlama-lama di sana.
Keindahan panorama alam ketika kita berada di dalam benteng merupakan pengalaman tersendiri bagi pengunjung karena di sana kita dimanjakan dengan terbentangnya pepohonan yang rindang beserta keindahan sore hari jelang menanti tenggelamnya matahari di ujung barat Pulau Lente'a.
Salah satu momen terindah saat mata memandang ketika masih berada di benteng adalah membuat hati merasa tenang, tenteram, aman dan damai.
Benteng Rambi Randa itu, nama aslinya adalah Benteng La Gole.
Jaraknya 4 Kilometer dari Desa Wawotimu Kecamatan Tomia Timur.
Posisi
benteng berada di titik 05° 45.641’ LS dan 123°57. 805’ BT. Tinggi
dindingnya 214 cm.
Di sini juga terdapat 5 Lawa atau pintu masuk yaitu
Lawa Kampo Bua, Lawa Tano, Lawa Rambi Randa, Lawa Tiroau, Lawa Dopi.
Lawa Kampo Bua, tingginya 192 cm, tebal 70 cm, lebar 90 cm.
Posisinya
ada di koordinat 05° 45.641’ LS dan 123°57. 805’ BT.
September 24, 2021
Kabar MEAKA
Kulati, Liang Kuru-Kuri, Tomia Timur, Walet, Wisata
No comments
Liang Kuri-Kuri adalah sebuah gua yang berada di tanjung Desa
Kulati.
Masyarakat setempat menyebutnya Ujuu Nu Liang Kuri-Kuri.
Tepatnya di bagian Barat Pantai Huntete Desa Kulati Kecamatan Tomia
Timur.
Jaraknya dari Desa Kulati sekitar 30 menit bila menggunakan
kendaraan roda dua.
Titik koordinat Liang Kuri-Kuri berada pada 05°
45.371’ LS dan 124°40. 096’ BT. Dengan ukuran mulut gua, dimana
lebarnya 2500 cm, tinggi 2200 cm dan kedalamanya 1750 cm.
Di dalam
gua ini terdapat Stalagmit dan Stalagtit. Selain itu juga ada sekitar 15 ekor
burung walet dan 10 sarangnya. Dinding gua ditutupi lumut yang berwarna
kuning, lantainya berwarna perak, permukaanya rata.
Di dalam gua juga
terdapat empat bongkahan batu besar. Di depan gua ini terdapat laut yang
jernih berwarna biru.
September 24, 2021
Kabar MEAKA
Kahianga, Puncak, Tomia Timur, Wisata
No comments
Puncak Khayangan salah satu objek wisata dataran tinggi yang berada di Desa Khayangan, Kecamatan Tomia timur, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat ± 8 menit dari ibu kota kecamatan.
Di puncak tersebut terdapat beberapa fosil kima yang berukuran besar, serta fosil batu karang. Selain itu ditumbuhi oleh semak dan hamparan rumput yang menghijau.
Dari atas Puncak Khayangan, para wisatawan dapat menyaksikan panorama alam di Pulau Tomia. Selain itu juga tampak jelas pemandangan Pulau Lentea, Tolandono dan Pulau Binongko.
Kamis, 23 September 2021
September 23, 2021
Kabar MEAKA
Huntete, Pantai, Tomia Timur, Wisata
No comments
Pantai Huntete berada di Desa Kulati Kecamatan Tomia Timur. Pantai ini pantai terpanjang di Pulau Tomia, sempadan pantai yang sangat luas, pantai berpasir putih , hamparan pohon kelapa. Bentuk pantai tersebut melengkung.
Umumnya, wisatawan datang ke sana setelah menjelajahi Pantai Soha. Itu karena pantai-pantai itu terletak berdekatan satu sama lain. Soha dikenal dengan alamnya yang tenang. Di sisi lain, Pantai Huntete memiliki gelombang yang lebih kuat. Belum lagi menonjolkan laut dalam. Hanya peselancar profesional yang cenderung menikmati fitur ini. Bagi wisatawan umum, berjalan kaki dan relaksasi pantai dianggap pilihan terbaik. Sebagai alternatif, Anda bisa menikmati berenang santai di garis pantai, di mana airnya dangkal.
Keindahan Pantai Huntete luar biasa. Terlepas dari ombak yang kuat, pantai ini menawarkan keunikan tertentu. Misalnya, beberapa pohon kelapa tumbuh di sana. Angin meniup daun pohon ini. Tampak damai dan terdengar menenangkan. Ketika sampai di pasir, pantai ini memiliki pasir putih dan lembut. Di beberapa bagian tanah, Anda mungkin menemukan rumput. Selanjutnya, itu adalah fasilitasnya. Bagi yang mengendarai kendaraan pribadi, pantai ini menyediakan tempat parkir di dekatnya. Dengan demikian, pengunjung tidak akan kesulitan untuk mampir.









