Tampilkan postingan dengan label Wakatobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wakatobi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2021

Peta geologi Lembar Kepulauan Tukang Besi Sulawesi Tenggara skala    1:25.000 tahun 1994, menunjukkan secara umum formasi geologi batuan daratan Kepulauan Wakatobi dikelompokkan kedalam formasi geologi Qpl dengan jenis bahan induk batu gamping jenis koral.

Jenis tanah yang tersebar pada beberapa tempat di empat pulau Kabupaten Wakatobi ialah jenis organisol, alluvial, grumosol, mediteran, latosol, serta didominasi oleh podsolik.

Formasi geologi batuan daratan dengan bahan induk batu gamping jenis koral dan dominasi tanah podsolik, secara umum mengindikasikan kesuburan tanah yang rendah akibat pH dan bahan organik rendah.

Terkait hal tersebut, pemerintah daerah akan mencanangkan program pertanian terpadu yang berbasis ekologi (integrated ecofarming).


Secara umum tidak terdapat sungai yang mengalir sepanjang tahun di Kabupaten Wakatobi. Sumber mata air di Kabupaten Wakatobi umumnya berasal dari air tanah (ground water) dari wilayah perbukitan dan gua-gua karst yang oleh penduduk setempat disebut “Tofa/Loba/Lia”.

Dari sumber mata air tersebut, air dialirkan ke rumah penduduk dengan menggunakan pipa. Sebagian dari sumber air tanah dari perbukitan dan gua-gua karst tersebut tidak layak minum sehinggga hanya bisa digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK).

Sumber air minum lainnya ialah air sumur tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti DAS Posalu, Banduha-nduha, dan Waginopo di Kecamatan Wangi-Wangi mempunyai peranan penting pada ketersediaan air tanah.

Dalam konteks ini, peranan vegetasi terutama hutan sangat penting dalam konservasi air tanah. Permukaan air terutama pada gua-gua karst dan sumur penduduk banyak dipengaruhi oleh naik turunnya muka air laut, memberikan indikasi tentang pentingnya perlindungan daerah pantai dari pengaruh abrasi.

Kamis, 04 November 2021


Hasil studi sumber-sumber air di Wakatobi, merekomendasikan sebagai berikut:

1. Perlunya penetapan kawasan lindung sumber mata air pada satu wilayah cekungan air atau kawasan sempadan mata air (Basin Management);

2. Perlunya penetapan zona perlindungan sumber air baku yang berasal dari mata air atau air tanah (Well Management);

3. Perlunya penggunaan metode pengawetan dan penghematan air tanah; 

4. Perlunya rancangan peraturan Daerah mengenai Perlindungan Sumber Air Baku dalam rangka menjamin kualitas dan kuantitas sumber air baku serta tersedianya air minum yang sehat pada kawasan sumber air baku sebagai kawasan lindung; 

5. Perlunya rancangan Peraturan Daerah yang mengatur tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air;

6. Perlunya kajian dampak pembanguanan terhadap kuantitas dan kualitas air; dan

7. Perlu pemetaan daerah rawan bencana dan mitigasi bencana longsor.

Guna melindungi sumber mata air (kuantitas dan atau kualitas) pada kawasan lindung air:

1. Tidak ada kawasan pemukiman baru dan pusat-pusat perdagangan di dalam kawasan lindung kecuali sistem buangan limbah yang baik tersedia, pengadaan air bersih disarankan dari PDAM.

2. Tempat pembuangan sampah akhir sebaiknya tidak berada dalam kawasan lindung air.

3. Infrastruktur perhubungan (jalan raya) serta pengambilan bahan galian untuk bangunan di dalam kawasan lindung sumber air hanya setelah ada penyelidikan rinci.

4. Penggalian dalam kawasan lindung dibatasi atau dilengkapi dengan upaya-upaya pencegahan.

5. Konservasi penggunaan lahan yang ada sekarang ini, sebaiknya juga seluruh daerah berhutan.

Sumber: Laporan Akhir Studi Perlindungan Sumber Mata Air Kabupaten Wakatobi, 2017


Hasil studi perlindungan sumber-sumber mata air di Kabupaten Wakatobi disimpulkan:

1. Status mutu air pada sumber mata air yang dianalisis dengan metode Indeks Pencemaran (IP) menunjukkan bahwa semua titik di Pulau Wangi-Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko yang teridentifikasi dan terpetakan serta terkategori baik. 

2. Berdasarkan kondisi kualitas air yang kondisinya baik, untuk menjaga kondisi tersebut maka perlu dilakukan rencana aksi perlindungan terhadap sumber-sumber mata air di Kabupaten Wakatobi.

Konsep/model perlindungan sumber mata air yang dapat dilakukan adalah: 

(1) penetapan kawasan lindung sumber mata air pada satu wilayah cekungan air atau kawasan sempadan mata air; 

(2) penetapan zona perlindungan sumber air baku yang berasal dari mata air atau sumber air; 

(3) penggunaan metode pengawetan dan penghematan sumber air sebagai upaya memelihara kondisi dan lingkungan sumber air agar selalu tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai; 

(4) pembuatan peraturan daerah mengenai perlindungan sumber air baku dalam rangka menjamin kualitas dan kuantitas sumber air baku serta tersedianya air minum yang sehat pada kawasan sumber air baku sebagai kawasan lindung; 

(5) pembuatan peraturan Daerah yang mengatur tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air yang sesuai dengan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah
tentang Sumber Daya Air.

Sumber: Laporan Akhir Studi Perlindungan Sumber Mata Air Kabupaten Wakatobi, 2017

Minggu, 31 Oktober 2021

 


Sumber: Laporan Akhir Master Plan Mangrove Wakatobi

Sumber: Laporan Akhir Master Plan Mangrove Wakatobi
 


Sumber: Laporan Akhir Master Plan Mangrove Wakatobi

 

Jumat, 29 Oktober 2021

Sumber: Laporan Akhir Master Plan Mangrove Wakatobi
 


Ketersediaan vegetasi mangrove berada di seluruh pulau yang ada di Kabupaten Wakatobi.

Keberadaan vegetasi mangrove terbesar berada di Pulau Kaledupa yakni hampir berada di seluruh desa (Desa Laulua, Desa Langge, Desa Sombano, Desa Buranga, Desa Balasuna, Desa Horuo, dan Desa Tampara.

Sedangkan di Pulau Wangi-wangi terdapat di Desa Liya Bahari dan Desa Liya Togo. Vegetasi mangrove di Pulau Tomia terdapat di Desa Lamanggau, Desa Waiti, Desa Timu, Kelurahan Patipelong, dan di Pulau Binongko terletak di Desa Popalia, Desa Taipabu, dan Desa Makoro.

Berdasarkan data jenis mangrove, dijumpai 13 marga dan 28 jenis mangrove, yakni Rhizophoraceae (8 jenis), Avicenniaceae (4 jenis), Sonneratiaceae (2 jenis), Meliaceae (2 jenis), Rubiaceae (2 jenis), Malvaceae (2 jenis), Leguminosae (2 jenis), Apocynaceae (1 jenis), Combretaceae (1 jenis), Guttiferae (1 jenis), Lecythidaceae (1 jenis), Melastomataceae (1 jenis), Pandanaceae (1 jenis). Berdasarkan 28 jenis mangrove tersebut, terdapat 20 jenis mangrove sejati dan 8 jenis mangrove ikutan.

Pengembangan kawasan wisata tersebut, secara langsung dapat memberikan kontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem wilayah di Kabupaten Wakatobi. Karena dengan menjaga kelestarian lingkungan tersebut maka Kabupaten Wakatobi dapat memperoleh devisa dari kunjungan para wisatawan.

Jenis kegiatan pariwisata yang dapat dikembangkan di Kabupaten Wakatobi adalah pariwisata laut/ bahari berupa panorama pantai dan laut, potensi terumbu karang, ombak untuk olah raga air serta dinamika kehidupan nelayan, wisata alam (panorama pegunungan, goa-goa bawah tanah), wisata seni dan budaya serta wisata buatan lainnya.

Rencana pengembangan kegiatan pariwisata untuk wilayah Kabupaten Wakatobi pada dasarnya mengintegrasikan rencana yang telah disusun saat ini. Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Wakatobi dan rencana zonasi taman nasional laut Kabupaten Wakatobi.

Rencana pengembangan kawasan peruntukkan pariwisata di Kabupaten Wakatobi diarahkan untuk:

a. Mengembangkan dan membangun kawasan pariwisata bahari terpadu di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Wakatobi, dengan mengikutsertakan masyarakat setempat, pemanfaatan potensi yang tersedia seperti pembuatan barang souvenir;

b. membangun dan pengembangkan kawasan wisata bahari secara profesional, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang ada;

c. mengembangkan dan meningkatan sarana penginapan berupa resort yang saat ini telah tersedia, untuk menunjang wisata seperti di Wanci (P. Wangi-Wangi), Pulau Hoga dan Pulau Kaledupa, Pulau Tolandono di wilayah Kecamatan Tomia;

d. mengembangkan sarana dan prasarana penunjang sektor pariwisata (wisata buatan);

e. mengembangan kegiatan kebudayaan masyarakat Kepulauan Wakatobi;

f. mempertahankan situs-situs sejarah seperti makam, benteng, rumah ibadah;

g. menetapkan kalender wisata tahunan dengan memanfaatkan eventevent acara laut, dan gelar budaya lainya.

Rabu, 27 Oktober 2021


Pengembangan kawasan wisata tersebut, secara langsung dapat memberikan kontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem wilayah di Kabupaten Wakatobi.

Karena dengan menjaga kelestarian lingkungan tersebut maka Kabupaten Wakatobi dapat memperoleh devisa dari kunjungan para wisatawan.

Jenis kegiatan pariwisata yang dapat dikembangkan di Kabupaten Wakatobi adalah pariwisata laut/ bahari berupa panorama pantai dan laut, potensi terumbu karang, ombak untuk olah raga air serta dinamika kehidupan nelayan, wisata alam (panorama pegunungan, goa-goa bawah tanah), wisata seni dan udaya serta wisata buatan lainnya. Rencana pengembangan kegiatan pariwisata untuk wilayah Kabupaten Wakatobi pada dasarnya mengintegrasikan rencana yang telah disusun saat ini.

Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Wakatobi dan rencana zonasi taman nasional laut Kabupaten Wakatobi.

Rencana pengembangan kawasan peruntukkan pariwisata di Kabupaten Wakatobi diarahkan untuk:

a. Mengembangkan dan membangun kawasan pariwisata bahari terpadu di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Wakatobi, dengan mengikutsertakan masyarakat setempat, pemanfaatan potensi yang tersedia seperti pembuatan barang souvenir;

b. membangun dan pengembangkan kawasan wisata bahari secara profesional, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang ada;

c. mengembangkan dan meningkatan sarana penginapan berupa resort yang saat ini telah tersedia, untuk menunjang wisata seperti di Wanci (P. Wangi-Wangi), Pulau Hoga dan Pulau Kaledupa, PulauTolandono di wilayah Kecamatan Tomia;

d. mengembangkan sarana dan prasarana penunjang sektor pariwisata (wisata buatan);

e. mengembangan kegiatan kebudayaan masyarakat Kepulauan Wakatobi;

f. mempertahankan situs-situs sejarah seperti makam, benteng, rumah ibadah;

g. menetapkan kalender wisata tahunan dengan memanfaatkan eventevent acara laut, dan gelar budaya lainya.


Pengembangan kegiatan budidaya perikanan hampir mencakup seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Wakatobi, dengan areal berada di sepanjang area pantai di pesisir pulau.

Kegiatan budidaya perikanan khususnya budi daya rumput laut, saat ini sudah merupakan salah mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat pesisir di Kabupaten Wakatobi utamanya masyarakat di wilayah Kecamatan Wangi-Wangi, Wangi-Wangi Selatan, Kaledupa, Kaledupa Selatan, Tomia dan Togo Binongko.

Wilayah kabupaten Wakatobi yang menjadi penghasil komoditi rumput laut dan luasan area lahan terbesar adalah Kecamatan WangiWangi Selatan.


Potensi bencana tsunami untuk Kabupaten Wakatobi sewaktu-waktu dapat terjadi di sepanjang daerah pesisir pantai di wilayah pulau WangiWangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Wilayah- wilayah pesisir yang telah teridentifikasi sebagai kawasan berpotensi atau rawan terkena tsunami tetapkan diarahkan sebagai kawasan lindung geologi meliputi:

a. Pesisir Wanci, Pongo, Wandoka, Waha, Waelumu, Patuno dan Waetuno di Kecamatan Wangi-Wangi;
b. pesisir Sousu, Mandati, Mola, Kapota dan Liya di Kecamatan WangiWangi Selatan;
c. pesisir Ambeua, Sampela, Laulua, Lefuto, Buranga, Waduri, Sombano, Horuo dan Mantigola di Kecamatan Kaledupa;
d. pesisir Langge, Tanjung, Tanomeha, Lentea dan Darawa di Kecamatan Kaledupa Selatan;
e. pesisir Waha, Onemai dan Runduma di Kecamatan Tomia;
f. pesisir Bahari di Kecamatan Tomia Timur;
g. pesisir Wali di Kecamatan Binongko; dan
h. pesisir Haka dan Popalia di Kecamatan Togo Binongko.

Dengan penetapan wilayah tersebut sebagai kawasan rawan tsunami maka dalam pelaksanaan pemanfaatan ruangnya perlu dilakukan pembatasan dengan memperhitungkan berbagai resiko
yang akan dihadapi bila sewaktu-waktu terjadi bencana tsunami.

Selasa, 26 Oktober 2021

Kawasan rawan bencana alam yang ditetapkan sebagai kawasan lindung di Kabupaten Wakatobi, meliputi:

1. pesisir Wanci, Pongo, Wandoka, Waha, Waelumu, Patuno dan Waetuno di Kecamatan Wangi-Wangi;
2. pesisir Sousu, Mandati, Mola, Kapota dan Liya di Kecamatan WangiWangi Selatan;
3. pesisir Ambeua, Sampela, Laulua, Lefuto, Buranga, Waduri, Sombano, Horuo dan Mantigola di Kecamatan Kaledupa;
4. pesisir Langge, Tanjung dan T anomeha di Kecamatan Kaledupa Selatan;
5. pesisir Waha, Onemay dan Runduma di Kecamatan Tomia;

6. pesisir Bahari di Kecamatan Tomia Timur;
7. pesisir Wali di Kecamatan Binongko; dan
8. pesisir Haka dan Popalia di Kecamatan Togo Binongko.



Rencana pengembangan kawasan lindung pada kawasan pantai berhutan bakau di Kabupaten Wakatobi diarahkan pada kawasan hutan mangrove yang terdapat di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kaledupa, Kaledupa Selatan, Tomia Timur dan Kecamatan Togo Binongko dengan total luasan kurang lebih 2.089,94 Ha.


Sebagian besar aktivitas permukiman tumbuh dan berkembang di wilayah pesisir pantai.

Perkembangan permukiman tersebut akhirnya membawa dampak yakni tergganggunya fungsi pantai sebagai ruang publik.

Hal ini dikarenakan akses menuju kawasan pantai telah terhalang oleh bangunan permukiman masyarakat.

Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan fungsi pantai sebagai ruang publik serta menjaga fungsi ekologis dan nilai estetis pantai.

Adapun rencana kawasan sempadan pantai yang diterapkan di Kabupaten Wakatobi, adalah:

1. Daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 meter dari titik pasang air tertinggi ke arah darat yang terdapat pada seluruh pulau di Kabupaten Wakatobi, dan

2. Daratan sepanjang tepiann laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai yang terdapat seluruh pulau di Kabupaten Wakatobi.

Selasa, 19 Oktober 2021


Saluran distribusi yang digunakan oleh para penenun selama ini, umumnya masih sangat sederhana, dimana para pembeli yang membutuhkan datang langsung ke tempat penenun secara individu.

Belum ada tempat khusus yang disediakan untuk memasarkan produk tersebut, baik yang disediakan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah.

Namun, untuk tenunan yang berasal dari Pulau Kaledupa sudah menggunakan saluran distribusi tingkat dua, yaitu dari penenun ke pelanggan pengecer yaitu kios-kios tenun, seperti yang ditemukan di pasar Meomeo Kota Baubau

Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.



Secara umum, harga produk tenunan lokal Waktobi berkisar antara Rp.200.000 hingga Rp.800.000. Harga-harga tersebut masih terkesan mahal kalau dibandingkan dengan harga tenunan lokal dari Kota Baubau dan beberapa daerah lainnya.

Harga tenunan lokal di tiga pulau: Binongko, Tomia, dan Wangi-Wangi hanya berkisar antara Rp.200.000,- sampai Rp.700.000, namun di Pulau Kaledupa, ada salah satu motif tenun yang harganya mencapai Rp.800.000,-

Di Kota Baubau, tenunan Wakatobi khususnya dari Kaledupa sudah menjadi produk yang dipasarkan dengan harga yang termahal diantara semua jenis dan motif produk tenunan lokal yang ada di pasar Meomeo.

Di pasar tersebut, tenunan lokal Wakatobi (Kaledupa) dipasarkan dengan harga Rp.600.000,- sedangkan tenunan lokal lainnya hanya dengan harga tertinggi sebesar Rp.400.000,-.

Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.



Pada pasar nasional, produk tenunan lokal Wakatobi belum banyak dikenal sebagaimana tenunan lokal daerah lain di nusantara ini, seperti dari Sulawesi Selatan, NTT,  Bali, Batak, Papua, dan lainnya.

Karena secara umum pemasaran tenunan lokal Wakatobi masih terbatas pada wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dan khususnya di Wakatobi sendiri dan Kota Baubau serta Kota Kendari.

Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.

Senin, 18 Oktober 2021


Kualitas tenunan lokal Wakatobi tidak kalah dengan tenunan lokal dari daerah lain di nusantara ini, karena dikerjakan oleh mereka yang sudah memiliki pengalaman menenun yang sudah cukup lama.

Hanya saja hingga saat ini masih dikerjakan secara manual dengan peralatan tradisional. Salah satu indikator yang menunjukkan kualitas tenunan lokal Wakatobi adalah dari aspek harga ditawarkan.

Di mana, walaupun ditawarkan dengan harga mahal, namun para customer tetap memburunya, khususnya para wisatawan.

Walaupun demikian, kualitas tetap harus dipelihara dan ditingkatkan, karena saingan di masa datang akan semakin bermunculan dengan kualitas yang lebih baik pula.

Untuk itu, maka peralatan yang digunakan harus lebih ditingkatkan kualitas dan daya kerjanya, sehingga akumulasi biaya produksinya menjadi rendah.

Dengan demikian, maka harga yang ditawarkan menjadi rendah, sehingga produk tenun yang dihasilkan oleh para penenun di Wakatobi bisa bersaing dengan produk tenunan lokal yang berasal dari daerah lain dan bisa dijangkau dengan daya beli masyarakat sekitarnya.

Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.

Komentar

Profil Kabar MEAKA

https://www.kabar-meaka.blogspot.com/

Link Website Desa/Kelurahan Se-Wakatobi

Kec. Wangiwangi - Kec. Wangsel - Kec. Kaledupa - Kec. Kaledupa Selatan - Kec. Tomia - Kec. Tomia Timur - Kec. Binongko - Kec. Togo Binongko

Koroe Onowa - Longa - Maleko - Pada Raya Makmur - Patuno - Pookambua - Posalu - Sombu - Tindoi - Tindoi Timur - Waelumu - Waginopo - Waha - Wapia-Pia - Pongo - Waetuno - Wanci - Wandoka - Wandoka Selatan - Wandoka Utara - Kabita - Kabita Togo - Kapota - Kapota Utara - Komala - Liya Bahari Indah - Liya One Melangka - Liya Togo - Liyamawi - Matahora - Mola Bahari - Mola Nelayan Bakti - Mola Samaturu - Mola Selatan - Mola Utara - Numana - Wisata Kolo - Wungka - Mandati I - Mandati II - Mandati III - Ambeua Raya - Balasuna - Balasuna Selatan - Horuo - Kalimas - Lewuto - Mantigola - Ollo - Ollo Selatan - Samabahari - Sombano - Waduri - Ambeua - Buranga - Lagiwae - Laolua - Darawa - Kaswari - Langge - Lentea - Pajam - Peropa - Sandi - Tampara - Tanjung - Tanomeha - Kollo Soha - Lamanggau - Patua - Patua II - Runduma - Teemoane - Waitii - Waitii Barat - Onemay - Waha - Dete - Kahianga - Kulati - Timu - Wawotimu - Bahari - Patipelong - Tongano Barat - Tongano Timur - Jaya Makmur - Kampo-Kampo - Lagongga - Makoro - Palahidu Barat - Palahidu - Rukuwa - Taipabu - Wali - Haka - Oihu - Popalia - Sowa - Waloindi

Ikuti Kabar MEAKA di Facebook

Ikuti Kabar MEAKA di Twitter

Ikuti Kabar MEAKA di Youtube

Recent Post

Link Web Desa IDM Terbaik Nasional 2018

Ngroto - Gondang - Munggur - Ngringo - Sukosewu

Link Web Desa IDM Terbaik Sultra 2018

Banabungi - Lambandia - Waemputang