Tampilkan postingan dengan label Binongko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Binongko. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 November 2021

Minggu, 31 Oktober 2021

 


Sumber: Laporan Akhir Master Plan Mangrove Wakatobi

Senin, 18 Oktober 2021

Boke Warna Hijau
 

Tenunan dengan Motif Boke (Ikat) merupakan produk tenunan yang paling rumit proses produksinya. Karena para penenun harus mengikat terlebih dahulu sebagian bahan baku benangnya lalu diwarnai sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam jangka waktu tertentu biasanya sampai satu minggu baru bisa dilakukan proses selanjutnya. Proses menenunnya pun harus lebih teliti untuk menentukan bentuk motif bokenya.

Saat ini, produk dengan Motif Boke merupakan produk tenun unggulan dan  banyak dicari para pembeli, baik lokal maupun dari luar daerah Wakatobi termasuk para wisatawan. Motif ini juga banyak dijadikan sebagai cendramata bagi tamu-tamu pemerintah daerah. Karena rumitnya proses tenunan motif ini, maka harganyapun berkisar antara Rp.400.000 hingga jutaan ribu rupiah.  

Tenunan dengan Motif Boke di Wakatobi memiliki banyak jenis. Setiap pulau besar di Wakatobi memilik ciri khas Boke yang dihasilkan. Di Pulau Binongko, selain menghasilkan boke yang disebut dengan Boke Biasa, tetapi juga menghasilkan Boke yang menjadi ciri khasnya adalah apa yang disebut dengan Boke Tamba.

Disebut dengan Boke Tamba karena bentuk warna bokenya adalah menyerupai  tanda tamba dalam simbol matematika.

Boke yang lebih rumit adalah Boke mengkombinasikan Boke Biasa dengan Boke Tamba dengan warna dasar hitam, sementara bokenya berwarna putih.

Ciri khas boke yang lain ditemukan di Pulau Tomia mengambil motif lejja kemudian ditambahkan boke diantara warna lejja.

Sementara tenunan dengan Motif Boke dengan warna-warna yang lebih terang ditemukan di Pulau Kaledupa, khususnya di Pajam. 

Boke Kaledupa dengan empat jenis warna dasar, yaitu biru dengan boke putih dan hitam, warna dasar hijau dengan warna boke kuning dan hitam, warna dasar hitam dengan warna boke merah, dan warna dasar hitam dengan warna boke kuning

Ditemukan jenis boke lain yang diproduksi di Pajam Kaledupa yaitu disebut Boke PAA Airlangga. Jenis boke tersebut dengan warna dasar ungu dan bokenya hitam dan putih.
 
Seperti halnya di tiga pulau yang telah dijelaskan, maka di Pulau Wangi Wangi juga memiliki ciri khas tenunan motif boke tersendiri yang sangat berbeda dengan di tiga pulau lainnya. Boke yang ada di pulai ini disebut dengan Sobi.
 
Motif Boke ini memiliki warna dasar hijau dengan boke berwarna putih dan kuning.
 
Sama dengan di tiga pulau lainnya, bahwa harga yang ditawarkan relatif sama yaitu berkisar antara Rp.400.000 sampai dengan jutaan.

Boke Dasar Biru dan Putih
 
 
 Boke Warna Biasa Warna Merah
 

Boke Warna Dasar Hitam Merah dan Hijau

 
Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.

Minggu, 17 Oktober 2021


Tenunan dengan Motif Paleka adalah tenunan yang hampir tidak ada bedanya dengan produk tenunan modern dari hasil pabrikan yang mudah didapatkan di toko toko modern saat ini.
 
Sepintas kain ini kalau disandingkan dengan kain yang ada di toko kain modern, maka sulit untuk membedakannya. Namun, setelah diraba dan diamati baru ketahuan bahwa dia adalah hasil tenunan lokal. Produk ini hanya didapatkan di Kelurahan Popalia Pulau Binongko.

Dari kasus ini kita bisa mengambil hikmah pelajaran bahwa ternyata para penenun lokal di Wakatobi dengan tangan terampilnya dan dikerjakan secara manual mereka mampu menghasilkan produk tenunan yang memiliki kualitas tinggi.

Terbukti bahwa walaupun motif ini ditawarkan dengan harga tinggi sebesar Rp.400.000, namun para pembeli tidak enggan membelinya, sementara produk pabrikan yang ada di toko dengan motif yang sama ditawarkan hanya dengan harga paling tinggi Rp.100.000.

Menurut penenunnya sudah banyak lembar yang dihasilkan tapi semuanya sudah laku dan para pembelinya adalah orang luar daerah.

Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018.

Jumat, 15 Oktober 2021

Jumlah penenun di Binongko tercatat sebagai berikut:

Tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah penenun di Binongko yang masih aktif menenun 93 orang.

Jumlah penenun di Wilayah ini merupakan yang paling banyak kedua setelah Kaledupa.

Meskipun Binongko bukan merupakan wilayah pusat pemerintahan Kerajaan, jumlah penenun di Binongko tergolong cukup banyak.

Kondisi ini dapat disebabkan karena sebagai wilayah yang paling terluar dari Wakatobi, memiliki akses sangat sulit dengan daerah lain, kondisi alam yang berbatuan menyebabkan para wanita di Wilayah ini sebahagian besar lebih suka menggunakan waktu luangnya untuk menenun, dibanding aktifitas lain.

Bagi para wanita di Binongko menenun bukan hanya sekedar melestarikan budaya, tetapi merupakan pencaharian yang lebih menguntungkan dibanding berladang.

Penenun di Wilayah ini terus-menerus meningkatkan kreativitasnya dengan belajar berkelompok, mengikuti pelatihan dan pameran secara mandiri, tidak bergantung pada pemerintah Daerah. Karenanya kreativitas ragam corak dan warna kain tenun/sarung Binongko banyak dan pesat perkembangannya.

Sumber: Dokumen Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi, 2018

Minggu, 10 Oktober 2021

 


Jumat, 01 Oktober 2021



Topografi kawasan daratan Wakatobi sangat bervariasi, terdiri dari dataran hingga perbukitan rendah dengan jenis tanah yang juga bervariasi antara lain tanah lempung, pasir putih dan kapur.

Dataran tertinggi di kawasan ini tercatat berada di
Wangi-wangi dengan ketinggian 274 meter di puncak Waboe-Boe. Selain itu terdapat pulau bukit Lagole di Tomia (271 m), bukit Terpadu di Binongko (222 m) dan bukit Pangilia di Kaledupa (203 m).

Topografi perairannya secara umum datar hingga curam dengan kedalaman dangkal
sekitar 2 meter di atas permukaan air laut,dan titik terdalam sekitar 1.404 meter di bawah permukaan air laut.

Pulau
-pulau yang berada di kawasan Kepulauan Wakatobi seluruhnya berjumlah empat puluh tiga (43) buah ditambah dengan tiga (3) gosong dan lima (5) atol.

Selain empat pulau utamanya, hanya sebagian kecil pulau-pulau lainnya yang berpenghuni. Sementara itu terumbu karangnya terdiri dari karang tepi (fringing reef), gosong (patch reef) dan atol.

Rabu, 22 September 2021


Pantai ini di 05°58.593” LS & 124°01.234”BT, letaknya di Desa Popalia Kecamatan Binongko. 10 Meter dari jalan raya, airnya jernih, abrasi tinggi, pasirnya sudah tidak ada, yang ada tinggal tumpukan karang-karang mati.

Kondisi perairan laut bergelombang pada bulan Juli-Agustus, sementara gelombangnya teduh pada Oktober-April. 100 meter dari Pantai Wee terdapat Hutan Mangrove milik adat.

Ada pohon kelapa dan pandan berduri. Tidak ada pemukiman. Berpotensi melihat sun rise. Terdapat ikanikan karang yang beraneka ragam.

Selasa, 21 September 2021


Pantai Palahidu ada di 05°53.321” LS & 124°00.440” BT. 50 Meter dari Jalan Raya, dan berada dibawah benteng Palahidu. Ada beberapa batu karang, dan berada dibawah tebing. Pasir putih halus dan bersih, pantainya stabil, airnya jernih. Bergelombang pada bulan Juli-Agustus, sementara gelombangnya teduh pada Oktober-April.

Pantai Palahidu adalah salah satu objek wisata di Pulau Binongko yang memiliki hamparan pasir putih yang membentang luas, batu karang dan air laut yang jernih.

Lokasinya juga cukup strategis, terletak di pertengahan antara Desa One-One dengan Desa Bante, Kecamatan Binongko, Kabupaten Wakatobi. Para wisatawan dapat berkunjung ke pantai ini menggunakan kendaraan roda dua dan menempuh perjalanan 15-20 menitan saja dari Kelurahan Wali.

Wisata Pantai Palahidu sendiri memiliki keunikan tersendiri dimana terletak di dalam teluk yang dikelilingi oleh tanjung di kiri dan kanannya. Terdapat pula jajaran pohon kelapa dan hamparan pasir putih yang terbentang luas yang masih terjaga kebersihannya. Air lautnya yang sangat jernih, cocok untuk aktivitas snorkeling dan diving. Pantai ini akan terlihat indah di kala sore karena dapat dinikmati matahari terbenam di sana.

Di sekitar pantai terdapat Benteng Palahidu sehingga tempat ini memiliki perpaduan antara sejarah dan keindahan alam, apalagi ditambah pemandangan eksotik saat matahari tenggelam, dipadukan dengan cerita sejarah tentang Benteng Palahidu yang juga berada di kawasan obyek wisata ini.


Pantai Ooro berada di Kelurahan Wali pada titik koordinat 05°59.428”LS & 124°04.572” BT. Lokasinya 200 meter dari Jalan Raya.

Pasir pantai putih kemerah-merahan, air jernih, pantainya melengkung, di depan bibir pantai terdapat dua pulau karang yang ditumbuhi cempaka dan sentigi.

Bergelombang pada bulan Juli-Agustus, sementara gelombangnya teduh pada Oktober-April. Sementara ditenganya ada batu karang. Sering menjadi tempat penyu bertelur. Ada lamun dan karang. Terdapat ikan-ikan karang yang beraneka ragam.

Di Pantai ini ditumbuhi pohon kelapa yang padat sehingga statusnya hak milik. Juga ada pohon pandan berduri. 10 meter dari bibir pantai terdapat hutan mangrove yang luasnya 500 meter.

Di hutan ini dapat ditemukan kepiting bakau, udang, burung kiwi, dan ikan gabus. Pantai ini berpotensi abrasi. Dipantai ini juga bisa melihat sunrise. Tak ada pemukiman. Aktifitas nelayan di daerah ini pada musim teduh untuk memancing, menjaring dan meti-meti.

Senin, 20 September 2021


Pantai Buku ada di sebelah utara Kelurahan Wali, letaknya di 05°57.425” LS & 124°03.759” BT.

Pantainya stabil. Memiliki pasir putih kemerahan. Masuk dalam gugusan pantai panjang di Wali. Panjangnya kurang lebih 2 Kilometer. Bergelombang pada bulan Juli-Agustus, sementara gelombangnya teduh pada Oktober-April.

Biota laut yang ada padang lamun merah, terumbu karang yang berbentuk dinding. Berada 40 meter dari jalan raya. 2 Km dari pemukiman warga Kelurahan Wali.

Vegetasi yang tumbuh di Pantai ini antara lain Kelapa padat, pohon pantai, sentigi, pandan berduri dan pohon pantai lainya.
 

Pantai ini merupakan pantai terpanjang di pulau binongko, di pantai ini pula kita dapat menikmati indahnya matahari pagi (sun rise).


Sumber: Data Potensi dan Data Daya Dukung Kawasan Ekosistem (SKPD Bagian Administrasi ESDA, 2014)


Pantai Belaa berada Kilometer dari Desa Hakka, letaknya di 06°01.669”LS & 124°03.524” BT.

Pasir pantai putih halus, airnya jernih, ada gundukan pasir, pantainya stabil, berpotensi abrasi.

Bergelombang pada bulan Juli-Agustus, sementara gelombangnya teduh pada OktoberApril. Jaraknya 3 Meter dari Jalan raya. Ada 3 jejak penyu bertelur, dan ada dua cangkang telur penyu yang masih ada kuningnya.

Di arah timur pantai ada pulau karang yang ditumbuhi pandan berduri dan sentigi. 10 Meter dari pantai ada hutan Mangrove yang padat dan tumbuhan kelapa.

Status kawasan hak milik. Disini terdapat terumbu karang dan lamun. Sementara Ikannya beraneka ragam dan warna seperti kakap merah. Aktivitas nelayan hanya pada musim teduh untuk memancing dan menjaring.

Sumber: Data Potensi dan Data Daya Dukung Kawasan Ekosistem (SKPD Bagian Administrasi ESDA, 2014)

Minggu, 19 September 2021


Topa La Bago ini ada di 05°52.846” LS & 123°59.227” BT, 20 meter dari jalan raya, 200 meter dari pemukiman di desa Makoro.

Terdapat stalagti dan stalgmit. Difungsikan sebagai tempat mandi dan mencuci warga sekitar.

Tumbuhan yang hidup seperti kelapa, beringin dan semak-semak, ada juga mangga. Sudah ada jalan rabat beton dari jalan raya.


Topa Raja ada di 05°58.327” LS & 124°03.866” BT Kelurahan Wali. 10 Meter dari Jalan Raya. 20 Meter dari Pemukiman Warga. Konon sebagai tempat permandian Raja Wali. 

Kini digunakan warga setempat sebagai tempat mandi dan mencuci. Di dalamnya terdapat stalagmit dan stalagtit. Vegetasi yang tubuh disekitarnya ada kebun singkong warga, dan 3 Pohon besar, warga setempatnya menyebutnya pohon Rita. Milik adat.

Sementara itu Topa Surabi terletak di 05°58.308” LS & 124°03.849” BT Kelurahan Wali. 10 Meter dari Jalan Raya. 20 Meter dari Pemukiman Warga.

Konon sebagai tempat permandian permaisuri Raja Wali. Kini digunakan warga setempat sebagai tempat mandi dan mencuci.

Di dalamnya terdapat stalagmit dan stalagtit. Vegetasi yang tubuh disekitarnya ada kebun singkong warga, dan 1 Pohon besar, warga setempatnya menyebutnya pohon Rita, dan pohon asam.


Masih ingat Gunung Tangkuban Perahu?

Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung menyerupai perahu yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter.

Kisah Sangkuriang menjadi legenda yang mewarnai Gunung Tangkuban Parahu. Tak hanya warga Sunda, legenda ini juga banyak diketahui oleh masyarakat daerah lain. Asal usul Gunung Tangkuban Parahu kerap dikisahkan tentang Sangkuriang yang menendang kapal hingga terbalik dan menjadi gunung. Kisah bermula saat dirinya jatuh cinta dengan ibunya sendiri setelah sekian tahun tak pernah lagi bertemu dengan sang ibu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "8 Fakta Gunung Tangkuban Parahu, dari Sangkuriang hingga Erupsi Purba", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2019/07/27/220000027/8-fakta-gunung-tangkuban-parahu-dari-sangkuriang-hingga-erupsi-purba?page=all.
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Wahyu Adityo Prodjo

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Gunung Tangkuban Perahu populer dalam kisah Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibu kandungnya. Singkatnya, Sangkuriang menendang perahu yang tidak selesai dibuatnya semalam sebagai persyaratan untuk menikahi ibunya. 

Perahu yang ditendang tersebut terbang melayang dan jatuh terbalik.

Namun, kisah Koncu Kapala tidaklah seheboh Gunung Tangkuban Perahu, walaupun keduanya menyerupai kapal.

Kisah Sangkuriang menjadi legenda yang mewarnai Gunung Tangkuban Parahu. Tak hanya warga Sunda, legenda ini juga banyak diketahui oleh masyarakat daerah lain. Asal usul Gunung Tangkuban Parahu kerap dikisahkan tentang Sangkuriang yang menendang kapal hingga terbalik dan menjadi gunung. Kisah bermula saat dirinya jatuh cinta dengan ibunya sendiri setelah sekian tahun tak pernah lagi bertemu dengan sang ibu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "8 Fakta Gunung Tangkuban Parahu, dari Sangkuriang hingga Erupsi Purba", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2019/07/27/220000027/8-fakta-gunung-tangkuban-parahu-dari-sangkuriang-hingga-erupsi-purba?page=all.
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Wahyu Adityo Prodjo

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Kisah Sangkuriang menjadi legenda yang mewarnai Gunung Tangkuban Parahu. Tak hanya warga Sunda, legenda ini juga banyak diketahui oleh masyarakat daerah lain. Asal usul Gunung Tangkuban Parahu kerap dikisahkan tentang Sangkuriang yang menendang kapal hingga terbalik dan menjadi gunung. Kisah bermula saat dirinya jatuh cinta dengan ibunya sendiri setelah sekian tahun tak pernah lagi bertemu dengan sang ibu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "8 Fakta Gunung Tangkuban Parahu, dari Sangkuriang hingga Erupsi Purba", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2019/07/27/220000027/8-fakta-gunung-tangkuban-parahu-dari-sangkuriang-hingga-erupsi-purba?page=all.
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Wahyu Adityo Prodjo

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Kisah Sangkuriang menjadi legenda yang mewarnai Gunung Tangkuban Parahu. Tak hanya warga Sunda, legenda ini juga banyak diketahui oleh masyarakat daerah lain. Asal usul Gunung Tangkuban Parahu kerap dikisahkan tentang Sangkuriang yang menendang kapal hingga terbalik dan menjadi gunung. Kisah bermula saat dirinya jatuh cinta dengan ibunya sendiri setelah sekian tahun tak pernah lagi bertemu dengan sang ibu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "8 Fakta Gunung Tangkuban Parahu, dari Sangkuriang hingga Erupsi Purba", Klik untuk baca: https://travel.kompas.com/read/2019/07/27/220000027/8-fakta-gunung-tangkuban-parahu-dari-sangkuriang-hingga-erupsi-purba?page=all.
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Wahyu Adityo Prodjo

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Koncu Kapala merupakan Perkampungan tua di Kelurahan Wali pada 05°59.479” LS & 124°03.893” BT, bentuknya menyerupai Kapal kandas. 

Berada 3 Kilometer dari Kelurahan Wali. Jalanannya masih berbatu. Di dalam Koncu Kapala terdapat Lawa (Pintu) yaitu Lawa Warindo-rindo (Pintu samar-samar). 

Ketika musuh melihat ke arah pintu ini orang yang di dalam tampak samar-samar. Selanjutnya Lawa di bawah Makam La Ode Simbo. Lawa Wagalapu (Pintu Gelap), Ketika musuh melihat ke arah pintu ini, orang didalamnya tak tampak. 

Lawa ini berada di 05°59.484” LS & 124°03.893” BT. Lawa Parigi di 05°59.479” LS & 124°03.893” BT. Lawa Patua I, Lawa Patua II dan Lawa Patua III.

Sabtu, 18 September 2021


Benteng Oihu jaraknya dari Desa Oihu (05°58.655” LS & 124°01.982” BT), kurang lebih 3 Kilometer.

Ini merupakan perkampungan tua bagi warga Desa Oihu. Di dalam benteng terdapat Kuburan Tua, Rumah Panggung tempat peristirahatan, 7 Lawa (Pintu batu), batu fondasi mesjid, serta ada satu tiang kayu mesjid yang masih berdiri kokoh, saat ini sudah diatapi dan dikeramatkan tiang tersebut oleh warga setempat. 

Di sekitar benteng ini ada sumber air bersih yang ada dalam gua, dan menjadi sumber air minum bagi desa tetangga seperti Haka, Wali dan lainya.


Sumber: Data Potensi dan Data Daya Dukung Kawasan Ekosistem (SKPD Bagian Administrasi ESDA, 2014)


Benteng Palahidu ada di 05°53.348” LS & 124°00.465” BT. Jaraknya dari jalan raya sekitar 45 Meter.

Benteng Palahidu berasal dari kata Pala yang berarti telapak kaki Kapitan Waloindi (Sang Pemimpin di Binongko yang berjuang melawan Kerajaan Buton), Hidu berasal dari kata hidup berarti hayat.

Di Benteng ini masih terdapat Pintu Batu yang disebut Lawa mengarah ke laut. Di samping Lawa terdapat benteng. Masih ada situs batu fondasi mesjid dan kuburan tua.

Benteng ini merupakan perkampungan tua dari warga Palahidu. Konon warga Palahidu yang sekarang ini berasal dari Benteng ini, mereka meninggalkan benteng karena ada wabah penyakit yang membahayakan warga akhirnya mereka pindah ke tempatnya yang sekarang.

Akhirnya menjadi satu desa yaitu Palahidu Barat.

Sumber: Data Potensi dan Data Daya Dukung Kawasan Ekosistem (SKPD Bagian Administrasi ESDA, 2014)


Benteng Watiua berada di Kelurahan Palahidu Kecamatan Binongko. Jaraknya sekitar 3 Kilometer. Letak geografisnya berada di 05° 55. 568’ LS dan 124° 01. 133’ BT.

Jalanan menuju lokasi benteng masih berbatu. Lokasi benteng itu berada di daerah ketinggian. Untuk sampai ke benteng melewati enam kali pendakian di bukit batu. Begitu pula saat menuju lokasi benteng harus mendaki beberpa bukit batu, pada pendakian pertama 3630 cm.

Di atas pendakian I ini menemukan susunan batu yang dulunya dijadikan sebagai Pos Jaga tepat pada titik 05° 54. 513’ LS dan 124° 01. 139’ BT. Kurang lebih 100 80 meter dari pos Jaga ada Topa Hangku yang dulu digunakan sebagi tempat mandi.

Di sebelah kiri Lawa ini ada 41 guci kuno yang masih utuh digunakan untuk menampung air hujan sebagi air minum. Setiap mulut guci dipasangi sebuah bambu yang sudah dibelah agar air hujan yang menetes bisa langsung masuk ke guci. Cara menampung air seperti itu masyarakat setempat meyebutya Simbu atau Sooha.

Sumber: Data Potensi dan Data Daya Dukung Kawasan Ekosistem (SKPD Bagian Administrasi ESDA, 2014)

Jumat, 17 September 2021

Benteng Baluara terdapat di Desa Taipabu Kecamatan Togo Binongko, Kabupaten Wakatobi. Letak geografisnya berada di 05° 55.860’ LS dan 123°58.302’ BT.

Di bawah benteng tepatnya 5 meter terdapat Topa Kaluku yang konon dijadikan sebagai tempat bagi warga benteng untuk mengambil air minum dengan titik koordinat 05°55.796’ LS dan 123°58.312’ BT. Dengan lebar mulutnya 320 cm, panjang 330 cm, dan dalamnya 290 cm. Jarak dari Desa Taipabu 5 Kilometer, namun dari jalan raya 80 meter.

Jalanan masuk ke benteng melewati kebun ubi kayu warga setempat.

Kemudian menaiki beberapa tangga batu yaitu tangga I 2700 cm, tempat yang rata (datar) pertama ukuranya 4500 cm, tangga 2 2025 cm, datar 2 1350 cm,tangga 3 2030 cm. Lalu menemukan Lawa I (Pintu Masuk I) pada titik 05°55.857’ LS dan 123° 53.303’ dengan lebar 180 cm, tinggi 250 cm, dan tebal 300 cm.

Sementara dinding benteng berukuran tebal 150 cm dan tinggi 170 cm. Di sebelah timur terdapat Lawa 2 di 05°55.868’LS dan 123°58.321’ BT ukuranya lebar 140 cm, tinggi 220 cm, tebal 190 cm.

Lalu di sebelah barat terdapat Lawa 3 yang berada di 05°55.922’ LS dan 123°58.272’BT dengan ukuran tinggi 180 cm, lebar mulut pintu 140cm, tebal 290 cm. Untuk Lawa ke 4 berada di sebelah selatan kurang lebih 1 Kilometer dari Lawa 3 ukuranya juga sama.

Sumber: Data Potensi dan Data Daya Dukung Kawasan Ekosistem (SKPD Bagian Administrasi ESDA, 2014)


Benteng Tadu terletak di Desa Haka, Kecamatan Togo Binongko Kabupaten Wakatobi. Letak geografisnya berada pada titik koordinat 06° 01.729’ Lintang Selatan (LS) dan 124°02.524’ Bujur Timur (BT). Jarak dari Desa Haka kurang lebih 5 Kilometer.

Sementara jarak dari jalan ke benteng kurang lebih 80 meter. Kondisi benteng telah banyak dipadati tumbuhan semak belukar sehingga situs-situs sulit terlihat. Tangganya masih terbuat dari susunan batu. Begitu pula jalan di sana masih dalam tahap pengerasan (masih berbatu).

Untuk mengelilingi benteng ini sebaiknya di pagi hari atau sore hari.

Benteng tersebut terdiri dari susunan batu gunung berwarna hitam dan batu karang yang telah membatu. Memiliki dua pintu masuk yang bersusun. Pintu masuk ini bisa disebut lawa. Lawa I tingginya 200 cm, tebal 250 cm, dan lebarnya 180 cm.

Lawa ini berada pada titik 06°01.717’ LS dan 124°02.544’BT. Kemudian Lawa II ukuranya sama dengan Lawa I berada di 06°01.715’ LS dan 124°02.552’BT.

Sekitar 500 meter dari Benteng Tadu tampak kokoh Mercusuar dan rimbunan pohon bakau dan setigi mengelilingi mercusuar.

Di situ juga lautnya jernih dan warnah biru kehijauan, bila musim teduh banyak nelayan yang datang memancing disana. Pasalnya ikan di sana jumlahnya banyak dan ukuranya besar-besar. Para penduduk setempatnya menyebutnya juga lokasi pemijahan ikan.

Sumber: Data Potensi dan Data Daya Dukung Kawasan Ekosistem (SKPD Bagian Administrasi ESDA, 2014)

Komentar

Profil Kabar MEAKA

https://www.kabar-meaka.blogspot.com/

Link Website Desa/Kelurahan Se-Wakatobi

Kec. Wangiwangi - Kec. Wangsel - Kec. Kaledupa - Kec. Kaledupa Selatan - Kec. Tomia - Kec. Tomia Timur - Kec. Binongko - Kec. Togo Binongko

Koroe Onowa - Longa - Maleko - Pada Raya Makmur - Patuno - Pookambua - Posalu - Sombu - Tindoi - Tindoi Timur - Waelumu - Waginopo - Waha - Wapia-Pia - Pongo - Waetuno - Wanci - Wandoka - Wandoka Selatan - Wandoka Utara - Kabita - Kabita Togo - Kapota - Kapota Utara - Komala - Liya Bahari Indah - Liya One Melangka - Liya Togo - Liyamawi - Matahora - Mola Bahari - Mola Nelayan Bakti - Mola Samaturu - Mola Selatan - Mola Utara - Numana - Wisata Kolo - Wungka - Mandati I - Mandati II - Mandati III - Ambeua Raya - Balasuna - Balasuna Selatan - Horuo - Kalimas - Lewuto - Mantigola - Ollo - Ollo Selatan - Samabahari - Sombano - Waduri - Ambeua - Buranga - Lagiwae - Laolua - Darawa - Kaswari - Langge - Lentea - Pajam - Peropa - Sandi - Tampara - Tanjung - Tanomeha - Kollo Soha - Lamanggau - Patua - Patua II - Runduma - Teemoane - Waitii - Waitii Barat - Onemay - Waha - Dete - Kahianga - Kulati - Timu - Wawotimu - Bahari - Patipelong - Tongano Barat - Tongano Timur - Jaya Makmur - Kampo-Kampo - Lagongga - Makoro - Palahidu Barat - Palahidu - Rukuwa - Taipabu - Wali - Haka - Oihu - Popalia - Sowa - Waloindi

Ikuti Kabar MEAKA di Facebook

Ikuti Kabar MEAKA di Twitter

Ikuti Kabar MEAKA di Youtube

Recent Post

Link Web Desa IDM Terbaik Nasional 2018

Ngroto - Gondang - Munggur - Ngringo - Sukosewu

Link Web Desa IDM Terbaik Sultra 2018

Banabungi - Lambandia - Waemputang