Sumber daya manusia yang masih menjalankan aktivitasnya sebagai penenun di Wakatobi saat ini secara kuantitas relatif tidak bertambah, karena kurangnya pengkaderan secara masif dari para pengambil kebijakan. Sehingga para penenun saat ini adalah mereka yang sudah berumur lima puluhan tanun ke atas.
Namun, jika ditinjau dari aspek kualitas sumber daya manusia para penenun saat ini sangat diandalkan, karena mereka sudah memiliki pengalaman puluhan tahun atau semenjak remaja sebelum menikah. Bahkan ada yang sudah mulai belajar dari orang tuanya sejak berusia 20 tahun sebelum menikah. Sehari-hari mereka menenun di rumahnya, melewati 3 tahapan tenun yang mengubah helaian-helaian benang hingga menjadi selembar kain dan sarung Wakatobi yang cantik dengan warna-warna cerahnya.
Sebagai konsekwensi kualitas sumber daya manusia ini, maka tenunan yang dihasilkan juga cukup berkualitas. Dengan jaminan kualitas produk yang baik, maka mereka berani tanpa keraguan menawarkan produk tenunannya dengan harga tinggi hingga jutaan rupiah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari aspek kualitas sumber daya manusia, tenunan lokal Wakatobi memiliki daya saing yang tinggi. Walaupun sebaliknya, dari aspek kuantitas masih memiliki daya saing yang rendah, karena minimnya minat generasi muda yang ingin belajar menenun, kecuali di Pajam Pulau Kaledupa.
Melihat potret sumber daya manusia penenun seperti ini, maka tidak ada pilihan lain bagi pemerintah kecuali mengambil kebijakan terkait dengan peningkatan minat dan daya tarik para remaja putri untuk mau menekuni keterampilan tersebut, melalui pelatihan-pelatihan teknis menenun dan pemahaman filosofi serta manfaat ekonominya.
Sumber: Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi (2018)
Namun, jika ditinjau dari aspek kualitas sumber daya manusia para penenun saat ini sangat diandalkan, karena mereka sudah memiliki pengalaman puluhan tahun atau semenjak remaja sebelum menikah. Bahkan ada yang sudah mulai belajar dari orang tuanya sejak berusia 20 tahun sebelum menikah. Sehari-hari mereka menenun di rumahnya, melewati 3 tahapan tenun yang mengubah helaian-helaian benang hingga menjadi selembar kain dan sarung Wakatobi yang cantik dengan warna-warna cerahnya.
Sebagai konsekwensi kualitas sumber daya manusia ini, maka tenunan yang dihasilkan juga cukup berkualitas. Dengan jaminan kualitas produk yang baik, maka mereka berani tanpa keraguan menawarkan produk tenunannya dengan harga tinggi hingga jutaan rupiah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari aspek kualitas sumber daya manusia, tenunan lokal Wakatobi memiliki daya saing yang tinggi. Walaupun sebaliknya, dari aspek kuantitas masih memiliki daya saing yang rendah, karena minimnya minat generasi muda yang ingin belajar menenun, kecuali di Pajam Pulau Kaledupa.
Melihat potret sumber daya manusia penenun seperti ini, maka tidak ada pilihan lain bagi pemerintah kecuali mengambil kebijakan terkait dengan peningkatan minat dan daya tarik para remaja putri untuk mau menekuni keterampilan tersebut, melalui pelatihan-pelatihan teknis menenun dan pemahaman filosofi serta manfaat ekonominya.
Sumber: Studi Peningkatan Daya Saing Tenunan Lokal Di Kabupaten Wakatobi (2018)



0 comments:
Posting Komentar