Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2020

Ini tentang kisah salah satu putra La Ode Ntarawe. Salah seorang keturunan bangsawan dari Kesultanan Buton yang bermukim di Pulau Wangi-Wangi, tepatnya di sekitar wilayah Waelumu (saat ini).

La Ode Ahmadi bukanlah sosok fiksi. Keturunannya tersebar hampir di seluruh desa di Pulau Wangi-Wangi. Dari beliau lahir tiga putra dan tiga putri, yakni: La Ode Abdul Raenunu, La Ode Abdul Daohidi dan La Ode Abdul Wahid.

Sedangkan putri-putri beliau adalah Wa Ode Maria, Wa Ode Musaidi, dan Wa Ode Hatiwa, sebagaimana yang ditulis oleh H. La Asiha dalam Buku Silsilah Keturunan La Ode Ntarawe pada tahun 1991.

Masa hidup La Ode Ahmadi sebelum ditawan oleh Kompeni Belanda, diketahui dihabiskan di area bukit (Wungka) di wilayah Waelumu. Di tempat ini masih bisa ditemukan makam orang tuanya, La Ode Ntarawe.

Setelah menikah ia sempat bermukim di area Rafa (baca: Rawa) antara Desa Waelumu dan Desa Koroe Onowa, kemudian Liya Topengka, dan terakhir di 'guda' Waelumu (Watuko).


Ilustrasi (sumber: https://www.poskata.com)


Kisah perseteruan La Ode Ahmadi dan Pihak Kompeni Belanda telah dilupakan dalam pengetahuan masyarakat Wangi-Wangi saat ini, pun juga yang bermukim di wilayah Waelumu. Dan kisah heroik-nya hampir tenggelam bersama meninggalnya tetua-tetua kampung di wilayah ini.

La Ode Ahmadi dikisahkan awalnya memberi kontribusi pada aktivitas Kompeni Belanda, khususnya untuk kegiatan kenavigasian.

Bahkan beliau bersedia menggunakan aset tanahnya untuk dibangun gudang logistik bagi kegiatan kenavigasian Kompeni Belanda yang berpusat di Mercua Suar yang dibangun di Wungka Desa Waha.

Konstruksi bangunan gudang tersebut dibangun dari batu bata, dan masih bisa ditemukan puing-puingnya di sekitar area Waelumu Watuko, yang disebut dengan guda (gudang). Lokasi tersebut telah digunakan sebagai area perkebunan oleh keturunan beliau.

Dalam tugas menjaga logistik Kompeni Belanda tersebut, La Ode Ahmadi dipersenjatai.

Namun, dalam perkembangannya, La Ode Ahmadi tidak nyaman bahkan menjadi benci terhadap tindak tanduk Kompeni Belanda di Wangi-Wangi.

Atas dasar itulah, ia melakukan perlawanan, bahkan dengan peralatan senjata yang dikuasainya, dan berhasil membunuh serdadu Belanda.

Setelah kejadian tersebut, Kompeni Belanda berhasil menangkap La Ode Ahmadi, dan ditawan serta diungsikan ke Bulukumba (dalam suatu versi), dan versi lainnya diungsikan ke Pulau Jawa.

Demikian cuplikan singkat tentang sikap anti imperialisme La Ode Ahmadi kepada Kompeni Belanda, walaupun seorang diri. Suatu sikap yang layak diteladani oleh generasi kiwari.

Ayo #CeritakanWakatobi !!!

Selasa, 17 Maret 2020

Jika ada yang bertanya; ilmu apa yang paling kompleks yang pernah anda tahu? Ternyata jawabannya bukan ilmu fisika, kimia, biologi, sosial, ekonomi atau yang lainnya.

Tetapi, ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang pembangunan. Kenapa bisa? Karena ia menghubungkan seluruh disiplin ilmu (multidisiplin), serta seluruh sektor kehidupan masyarakat (multisektor).

Ilmu pembangunan tidak hanya meramu ilmu fisika dan kimia menjadi konstruksi bangunan dan materialnya, tetapi pada saat yang sama memerlukan perspektif lingkungan dari ilmu biologi agar bangunannya menjadi asri dan estetis. Tidak cukup sampai di situ, juga memerlukan ilmu sosial dan ekonomi agar tercipta suasana kerukunan antar warga serta dapat memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi, misalnya.

Ilmu pembangunan tidak hanya membicarakan tentang masalah pertanian, perikanan, kehutanan, dan aneka sektor lainnya secara tunggal, tetapi selalu mempertimbangkan keterkaitan seluruh sektor, agar tidak saling meniadakan, tetapi kesemuanya saling menopang untuk kemaslahatan masyarakat.

Oleh karena itu, kegiatan pembangunan memerlukan aktornya tersendiri, dan bukan ajang untuk ujicoba kebijakan perencanaan dan anggaran. Bahkan, lebih jauh dari itu, pembangunan tidak hanya memerlukan aktor yang mengetahui ilmunya semata, tetapi aktor yang diharapkan adalah yang menguasai ilmunya dan sekaligus memahami penerapannya.

Sumber: FB Halim Wawonii

Salah satu tokoh langka, yang memenuhi kriteria ini adalah Abdul Halim. Seorang putra asal Wawonii, Konawe Kepulauan. Jejak rekamnya memenuhi syarat seorang yang 'kholash' sebagai pegiat sekaligus teknokrat pembangunan, khususnya di regional Pulau Sulawesi.

Jika pembangunan itu memerlukan pendekatan partisipatory, teknokratik, dan top down - bottom up, maka ia telah melaluinya, bahkan ia telah membelajarkan pengalamannya kepada banyak orang, bahkan di antara murid-muridnya berhasil menyandang capaian sebagai 'Master Facilitator', hingga ia pantas menyandang sebutan sebagai 'Guru Para Master Fasilitator dan Perencana Pembangunan'.

Ia telah melatih puluhan, bahkan ratusan orang untuk menjadi tenaga fasilitator masyarakat dan perencana, di sejumlah Kabupaten di seluruh Provinsi di Sulawesi. Tidak ada yang menyangka, jika murid-muridnya telah banyak yang berposisi sebagai perencana di sejumlah OPD di Kabupaten Se-Regional Sulawesi.

Tak tanggung-tanggung ilmu dan teknik yang diajarkannya langsung bersanad pada tokoh utama ilmu fasilitasi masyarakat level internasional, penemu dan pengonsep ilmu dan teknik meta-fasilitasi masyarakat, yakni Wada San dan Nakata San asal Negeri Sakura, Jepang.

Sementara itu, ilmu perencanaannya langsung bersanad pada Prof. Ohama melalui ilmu dan teknik Participatory Local Social Development (PLSD), suatu ilmu dan teknik meng-kolaborasikan situasi desa dan situasi lokal (kabupaten) hingga nasional, bahkan internasional.

Pada kedua pengalaman tersebut ---meta-fasilitasi dan PLSD--- sampailah ia pada derajat kompetensi di atas rata-rata aktor pembangunan yang ada hari ini. Kenapa demikian? Oleh karena ia telah menjadi kamus hidup bagi ilmu dan teknik pembangunan itu sendiri.

Mungkin ada yang bertanya: bukankah meta-fasilitasi dan PLSD itu sekedar tumpukan teori semata? Tentu saja iya, dalam posisinya sebagai konsep, namun sebagai instrument, ia sangat mengetahui teknik implementasi serta tombol aktifnya untuk memaslahatkan unsur-unsur pembangunan masyarakat, berdasarkan pengalamannya mempesertai, mempanitiai, bahkan mempertanggungjawabkan puluhan kali kegiatan perencanaan, sejak Musrenbang Dusun, Desa, Kecamatan, Kabupaten, Regional, hingga Nasional.

Ia pernah aktif sebagai pegawai Bappeda Provinsi dan Kabupaten, bahkan pernah menjadi Kasubid, Sekretaris Badan, dan Kepala Bappeda. Belum lagi, sejumlah kegiatan Diklat yang ia ikuti berkaitan dengan perencanaan dan kebijakan pembangunan, semakin memantapkan dirinya sebagai seorang teknokrat pembangunan (untuk mengetahui profil Abdul Halim bisa baca link ini: https://www.rightnewskendari.com/mengenal-lebih-dekat-sosok-abd-halim-calon-bupati-konkep-ini-profilnya/).

Kalau ia dikenal sangat mahir dengan berbagai pendekatan pembangunan; partisipatory, teknokratik, dan top down - bottom up, lalu bagaimana dengan pendekatan politik-nya?

Justru ia dikenal sebagai salah seorang founding father (pendiri) Kabupaten Konawe Kepulauan. Bukankah perjuangan untuk pembentukan Kabupaten Konkep penuh dengan pendekatan politik?

Ia telah membuktikannya. Termasuk keluasan jejaringnya ke berbagai lembaga mitra pembangunan, di antaranya adalah JICA.

Satu lagi yang tak banyak dikenal orang, jika ia adalah seorang pembelajar. Salah satu tokoh idola yang selalu ia jadikan rujukan adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii. Yang ia maksud adalah Syeikh Imam Al-Ghazali, seorang ahli ilmu, filsuf juga ahli zuhud yang dikenal sebagai Hujjatul Islam. [MN]

Rabu, 11 Maret 2020

Tahukah anda siapa pakar ekonomi maritim nasional? Bahkan kepakarannya terbilang hampir-hampir mendahului percakapan nasional tentang kemaritiman di tanah air.

Ya, beliau telah dikenal sebagai pakar maritim sejak awal tahun 2000-an. Waktu itu, bahkan kita baru mengenal Departemen Kelautan, dan Perikanan (DKP) sesuai Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000.

Tokoh yang dimaksud adalah pria kelahiran Pulau Barata Kaledupa (Wakatobi), bertepatan dengan empat tahun setelah Republik Indonesia merayakan kemerdekaannya, 17 Agustus 1949.

Pria yang dimaksud adalah Prof. Dr. H. Laode Masihu Kamaluddin, M.Sc, M.Eng atau yang lebih dikenal dengan sapaan Prof. Masihu.


Laode Masihu Kamaluddin
Ia adalah sosok cendekiawan dan akademisi. Saat ini beliau sedang dipercaya menjadi Penasehat Bidang Ekonomi Maritim Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Lakidende, Unaaha, Sulawesi Tenggara untuk masa amanah 2015 – 2019.

Prof. Masihu tercatat sebagai pakar dan guru besar ekonomi, yang langka yang dimiliki Indonesia saat ini, yang secara spesifik menekuni ekonomi internasional dengan spesialisasi ekonomi kemaritiman. Di bidang ini, bisa jadi, ia adalah satu-satunya pakar di Indonesia.

Tanah kelahirannya harus rela ia tinggalkan di usia muda, untuk mewujudkan cita-citanya. Dan Ibukota Jakarta merupakan tempat pertama yang di tujunya untuk memuaskan dahaga intelektualnya.

Semua gelar akademik ia peroleh, mulai dari Universitas Padjajaran Bandung sampai mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Iowa State Universitiy Amerika Serikat.

Dia mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) di bidang Industrial Technology, Master of Engineering (M.Eng) di bidang Industrial and Manufacturing System Engineering, dan Master of Science (M.Sc) di bidang Internasional Development Studies.

Tepat pada tanggal 21 Mei 2005, penghargaan tertinggi di bidang akademik diraihnya di Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) melalui pengukuhannya sebagai Guru Besar (Profesor) di Bidang Ekonomi Maritim.

Ia dikenal sebagai “Pribadi Zig Zag” dan “Multitalenta”, demikianlah kawan-kawannya sering menyebutnya.

Ia disebut demikian, karena segudang kemampuan yang dimilikinya, dan seabrek aktivitas pernah dilakoninya, dari yang berbau akademis (bahkan sempat menjadi Ketua Forum Rektor Indonesia tahun 2013), Asisten Menteri hingga menjadi Staf Khusus Wakil Presiden RI.

Ia juga pernah menjadi anggota MPR RI periode 1993-1997 dan 1999-2004, kemudian menjadi anggota DPR RI periode 1997-1999.

Bahkan beliau juga menjadi perintis dan pendiri Borneo Tropical Rainforest Foundation (BTRF) Indonesia, suatu yayasan nirlaba (NGO), dimana ia sekarang didaulat menjadi Direktur Regional BTRF Internasional yang berkedudukan di Swiss Geneva.

Ia juga tercatat sebagai CEO International Eco Rescue Ltd., Perusahaan Global yang berpusat di Santa Fe New Mexico, New York dan London.

Memang, Prof Laode sejak muda sudah bertekad mendermakan dirinya di dunia aktivis yang peduli pada kepentingan umat. Kala mahasiswa, ia dikenal sebagai sosok aktivis yang malang melintang di dunia kemahasiswaan.

Bagaimana tidak, semasa kuliah di UNPAD, karir kemahasiswaan dimulai dari ketua Himpunan Mahasiswa Kimia, kemudian ketua Senat Mahasiswa Fakultas MIPA, dan akhirnya menjadi ketua Dewan Mahasiswa Unpad pada 1972-1973.

Tatkala kuliah di Iowa State University Amerika Serikat, ia menjadi ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia Se-Amerika Serikat 1985-1991.

Demikian juga, aktivitasnya seabrek di organisasi ekstra kampus. Ia bergelut di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dimulai dari ketua komisariat, Ketua Umum HMI Cabang Bandung sampai dengan Ketua Bidang Luar Negeri PB HMI di tahun 1978.

Kemudian tercatat sebagai Ketua Majelis Pakar Korps Alumni HMI (KAHMI) Nasional periode 2012-2017.

Sebagai seorang akademisi dan leader yang berjiwa visioner, Prof Masihu lebih meyakini bahwa majunya suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari bangsa tersebut.

Untuk itu, salah satu bentuk keseriusannya dalam membangun SDM adalah ketika beliau bersama Gubernur Sultra, Nur Alam SE menggagas kerja sama restorasi beasiswa Cerdas Sultraku pada tahun 2011.

Pada saat di Universitas Lakidende beliau menggarap kerja sama pemerintah Kabupaten Konawe Raya (Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, dan Kolaka Timur) perihal beasiswa agroindustri.

Prof. Masihu pula kerap kali diundang sebagai pembicara atau narasumber di berbagai seminar, ceramah, diskusi dan simposium, baik di dalam maupun di luar negeri.

Salah satunya adalah pada gelaran Asia Media Summit 2012 di Bangkok, yang terhimpun lebih dari 600 penentu kebijakan Industry Broadcasting di Asia, Amerika, Eropa dan Timur Tengah, Prof Masihu menjadi satu-satunya pembicara mewakili Indonesia.

Jiwa Leadership yang dimilikinya kerap kali melahirkan ide kreatif dan menjadi inspirasi oleh banyak orang. Karena alasan itu pula membuat Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) melamarnya menjadi rektor di kampus yang bergengsi di Semarang tersebut.

Bahkan nama beliau sempat diabadikan di sebuah gedung sekolah “Ann Thompson Academy”, di Icheon Korea Selatan dengan statemen yang membanggakan umat Islam dan bangsa Indonesia, “LAODE HALL : Dedicated to Dr. Laode M. Kamaluddin, who has shared a great dream for Asian Leadership in the world”.

Karena berbagai dedikasinya tersebut, menjadikan nama beliau pernah disebut-sebut dalam bursa kandidat calon menteri masa Jokowi – JK. Ia digadang-gadang akan menjadi Menteri Maritim, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Tekhnologi, juga Menteri Komunikasi Informasi.

Sumber:
https://www.facebook.com/kawanmasihu/photos/a.1880920645473638/1890796697819366/?type=3

Ayo #CeritakanWakatobi !

Jumat, 01 November 2019

Jika ada yang bertanya, tentang suatu Pulau di Wakatobi yang melahirkan banyak pemberdaya tangguh, rasa-rasanya tidak berlebihan jika kita langsung menunjuk ke Pulau Tomia.

Tentu publik Wakatobi, bahkan Sulawesi Tenggara tidak akan lupa dengan sosok Hugua, yang tidak hanya sebagai Maestro Pemberdaya dari Tomia, dengan sepak terjangnya di kancah nasional bahkan internasional, tetapi juga beliau pernah menahkodai Wakatobi selama 2 periode pemerintahan daerah secara berturut-turut sebagai Bupati Wakatobi, dengen prestasi mentereng, mengerek Wakatobi dari  negeri 'tanpa nama' menjadi negeri 'bernama'.

Pada generasi berikutnya, publik Sulawesi Tenggara dan Wakatobi tentu juga tak asing dengan sosok Syamsudin Rahim dan Muhammad Ali ---yang akrab disebut dengan Ali Tembo--- di mana keduanya setelah malang melintang di dunia pemberdayaan melalui berbagai program dan kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di berbagai daerah, juga mendedikasikan kemampuannya dalam dunia politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Tentu, masih ada banyak nama lain yang merupakan generasi pemberdaya dari Pulau Tomia. Tapi uniknya, sosok yang satu ini adalah konsistensinya dalam dunia pemberdayaan masyarakat, sampai-sampai menolak berbagai kesempatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang merupakan impian dari banyak orang tua dan alumni Perguruan Tinggi, khususnya yang berasal dari desa-desa.

Sosok yang dimaksud adalah Jumiadin. Beliau lahir di Wali Desa Patua Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi pada tanggal 31 Desember 1978, dari pasangan seorang Ayah bernama La Ade Sainta dan Ibu Wa Baisa.
Sumber foto: https://www.instagram.com/p/Bv0oSyKhz26/?igshid=13e22fl3zu3y3&r=wa1
Beliau menghabiskan masa kecil hingga remaja di desa, bahkan telah ditempa dalam kultur dan etos kerja sebagai anak petani sejak  usia dini.

Riwayat pendidikan beliau dimulai pada tahun 1984-1990 dengan menempuh pendidikan di SDN Tanowali, tahun 1990-1993 menamatkan pendidikan di SMPN Waha Tomia, dan pada tahun 1996 mendapat ijazah SMA di SMAN Tomia pada Jurusan A2 kala itu.

Pada Tahun  1996, beliau mencoba merantau untuk mencari ilmu di ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, tepatnya pada Universitas Haluoleo dan diterima pada Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian  (Agribisnis) ---melalui jalur SNMPTN--- sesuai dengan cita-citanya sejak kecil untuk menjadi seorang Insinyur Pertanian, dan diwisuda pada tahun 2001. 

Karirnya sebagai seorang pemberdaya, dimulai setelah menjadi sarjana. Beliau bergabung sebagai Tenaga Pendamping Lapangan pada salah satu LSM lokal, yang saat itu sedang memiliki program pemberdayaan, namanya Lembaga Swadaya Masyarakat Bina Masyarakat Sejahtera (LSM BMS) sampai tahun 2002.

Karir beliau pada LSM BMS, menjadi 'padepokan' pertama yang mengajarkan banyak hal tentang fundasi, filosofi, dan praktek sebagai pemberdaya yang langsung diajarkan oleh guru pertama beliau dalam dunia pemberdayaan masyarakat, Muhammad Kasir, SE., MS (Direktur LSM BMS), yang juga merupakan putra sekampungnya dari Wali Tomia.

Adapun nama program pemberdayaan masyarakat yang ditangani untuk pertama kalinya di LSM BMS adalah Small Scale Irrigation Management Program Phase III ( SSIMP III) kerjasama dengan Konsultan Nippon Coei dari Jepang.

Tahun 2002-2004 beliau bergabung di Lembaga Pengembangan Masyarakat Pesisir dan Pedalaman (Lepmil) juga sebagai Tenaga Pendamping Lapangan/Fasilitator.

Hanya dalam waktu tiga tahun, sepak terjang beliau sudah diperhitungkan dalam jagad pemberdayaan, yang akhirnya mengantarkan beliau pada tahun 2004-2005 diberi mandat untuk menjadi Direktur LSM Cinta Desa Lestari (Cides).

Pada tahun 2006 beliau pernah bergabung di LSM SCIENSES Wakatobi. Kemudian pada tahun 2007-2009 bekerja di Program Coral Reef Rehabilitation and Management Project Phase II (COREMAP - II) Wakatobi sebagai Senior Extention and Training Officer (SETO) di Pulau Binongko.

Latar belakang dan pengalaman beliau sebagai Sarjana Pertanian ikut dikontribusikan kepada masyarakat Wakatobi, pada tahun 2009-2015 beliau dikontrak sebagai Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL TBPP), yang merupakan salah satu Program andalan dari Kementerian Pertanian.

Sebagai salah seorang putra dari pulau karang, beliaupun tidak hanya mumpuni pada pemberdayaan masyarakat yang bersifat agraris, tetapi juga mahir pada pemberdayaan masyarakat laut dan pesisir. Itulah salah satu yang menjadi alasan beliau bergabung dengan Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat Segi Tiga Terumbu Karang (LPSM Setia Karang) Wakatobi sejak 2008 sampai sekarang.

Salah satu pencapaian terbaik beliau pada dunia pemberdayaan masyarakat adalah ketika berhasil menjadi salah seorang pemegang Sertifikat Master Facilitator (MF) dari JICA CD Project Sulawesi tahun 2012, setelah mengikuti berbagai tahapan pelatihan meta-fasilitasi pada Program JICA CD Project Sulawesi sejak tahun 2008 - 2012.

Ilmu meta-fasilitasi tersebut merupakan konsep-konsep pemberdayaan masyarakat yang dihasilkan dari praktek panjang sang Maestro Pemberdayaan Masyarakat level internasional dari Jepang, Nobuaki Wada dan Toyokazu Nakata yang populer sejak awal tahun 2000-an.

Beliau sendiri mendapatkan ilmu meta-fasilitasi langsung dari Ashar Karateng, murid kesayangan Nobuaki Wada dan Toyokazu Nakata di Indonesia, yang di kemudian hari menjadi salah seorang inisiator dan sekaligus Direktur Yayasan COMMIT yang berkedudukan di Makassar.

Konsep meta-fasilitasi sendiri dapat dipahami secara tuntas pada buku karya Nobuaki Wada dan Toyokazu Nakata yang sudah diterjemahkan sejak tahun 2016 dari judul aslinya Reaching Out to Field Reality: Meta-Facilitation for Community Development Worker oleh Yayasan COMMIT ke dalam versi Indonesia dengan judul: Menyingkap Realitas Lapangan: Meta-Fasilitasi Bagi Pekerja Pembangunan Masyarakat.
Sumber foto: https://www.instagram.com/p/BetsoiaHc3m/?igshid=1glqemmlr01em&r=wa1

Atas pencapaian tersebut beliau mendapatkan kepercayaan sebagai Koordinator Fasilitator Kabupaten dalam Project "Survey Kegiatan Masyarakat Berkaitan Dengan Isu Perubahan Iklim di Kabupaten Wakatobi" pada Program Kerjasama Yayasan COMMIT dan Japan lnternational Cooperation Agency (JICA) - Capacity Development For Climate Change Strategies (CDCCS) In Indonesia pada tahun 2012 sampai dengan 2013.

Dari sederet pengalaman beliau sebagai seorang pemberdaya tersebut, maka tak mengherankan jika beliau sejak tahun 2015 sampai saat ini, diamanahkan sebagai Tenaga Ahli Kementerian Desa PDTT di Kabupaten Wakatobi pada Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Pada tahun 2018, beliaupun berhasil menyelesaikan studinya sebagai seorang Magister Sains pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara/Publik di Universitas Unidayan Baubau.

Akankah seluruh titisan pengalaman generasi pendahulu beliau sebagai para Maestro Pemberdaya dari Tomia mewaris secara sempurna ke beliau, setelah 'kholash' berkali-kali sebagai Sang Pemberdaya maka akan ke gelanggang politik ? Nanti waktu yang menjawabnya.

Yang jelas, beliau telah menunjukkan 'maqom-nya' sebagai salah seorang generasi pemberdaya masyarakat yang memancar jelas dari tanah Wali Wakatobi. [S1]

Komentar

Profil Kabar MEAKA

https://www.kabar-meaka.blogspot.com/

Link Website Desa/Kelurahan Se-Wakatobi

Kec. Wangiwangi - Kec. Wangsel - Kec. Kaledupa - Kec. Kaledupa Selatan - Kec. Tomia - Kec. Tomia Timur - Kec. Binongko - Kec. Togo Binongko

Koroe Onowa - Longa - Maleko - Pada Raya Makmur - Patuno - Pookambua - Posalu - Sombu - Tindoi - Tindoi Timur - Waelumu - Waginopo - Waha - Wapia-Pia - Pongo - Waetuno - Wanci - Wandoka - Wandoka Selatan - Wandoka Utara - Kabita - Kabita Togo - Kapota - Kapota Utara - Komala - Liya Bahari Indah - Liya One Melangka - Liya Togo - Liyamawi - Matahora - Mola Bahari - Mola Nelayan Bakti - Mola Samaturu - Mola Selatan - Mola Utara - Numana - Wisata Kolo - Wungka - Mandati I - Mandati II - Mandati III - Ambeua Raya - Balasuna - Balasuna Selatan - Horuo - Kalimas - Lewuto - Mantigola - Ollo - Ollo Selatan - Samabahari - Sombano - Waduri - Ambeua - Buranga - Lagiwae - Laolua - Darawa - Kaswari - Langge - Lentea - Pajam - Peropa - Sandi - Tampara - Tanjung - Tanomeha - Kollo Soha - Lamanggau - Patua - Patua II - Runduma - Teemoane - Waitii - Waitii Barat - Onemay - Waha - Dete - Kahianga - Kulati - Timu - Wawotimu - Bahari - Patipelong - Tongano Barat - Tongano Timur - Jaya Makmur - Kampo-Kampo - Lagongga - Makoro - Palahidu Barat - Palahidu - Rukuwa - Taipabu - Wali - Haka - Oihu - Popalia - Sowa - Waloindi

Ikuti Kabar MEAKA di Facebook

Ikuti Kabar MEAKA di Twitter

Ikuti Kabar MEAKA di Youtube

Recent Post

Link Web Desa IDM Terbaik Nasional 2018

Ngroto - Gondang - Munggur - Ngringo - Sukosewu

Link Web Desa IDM Terbaik Sultra 2018

Banabungi - Lambandia - Waemputang