Setelah menyelesaikan interview di hari pertama kunjungan Tim Evaluator JICA CDP dengan bertatap muka dengan Kelompok Kauluma di Desa Longa, maka Tim Evaluator mengagendakan interview berikutnya dengan para alumni Diklat CF dan juga pihak Bappeda Kabupaten Wakatobi. Interview dengan Kelompok Kauluma merupakan opsi yang paling mungkin untuk dipilih oleh Tim Evaluator, selain karena kelompok ini terbentuk sejak masa program JICA CDP (2008-2012), juga secara posisional berada di wilayah Pulau Wangi-Wangi (Wilayah Ibukota Kabupaten Wakatobi) ---bahkan yang jaraknya paling dekat--- dengan jarak hanya 1 km dari Bandara Matahora (ditempuh sekitar 10-15 menit dari Bandara kebanggaan masyarakat Wakatobi).
Gambar 1. Interview Tim Evaluator - CF
Pada hari kedua (Sabtu, 14 Januari 2017) untuk sesi pertama Tim Evaluator mengagendakan untuk bertatap muka dengan para 'pendekar lapangan' pembangunan masyarakat, merekalah yang disebut sebagai Community Facilitator (CF). Sekitar pukul 09.30 Wita, sebanyak 5 (lima) orang CF hadir di salah satu gazebo Sombu Dive, ada Pak Jamudin, Pak Jumiadin (alumni Diklat JICA CDP), Pak Darwis, dan Hendri (Alumni On the Job Training/OJT JICA CDP). Sedangkan dari pihak evaluator hadir Pak Dr. Bahtiar Mustari, Dr. Muh. Jibril Tajibu, dan Dr. Kasnaeny Karim.
Masing-masing CF selain mengemukakan pengalamannya selama Diklat berlangsung juga menyampaikan apa yang berubah pada kapasitas peribadinya. Terungkap, bahwa hasil Diklat 5 seri (5 siklus mikro pemberdayaan masyarakat) JICA CDP (Partnership Building, Community Based Issue Analysis, Action Plan, Implementation/Monitoring, dan Evaluation/Feedback) telah banyak merubah cara pandang (mindset) dalam memandang masyarakat dan pembangunan. Selain perubahan mindset, juga ada perubahan keterampilan dalam memfasilitasi masyarakat.
Selain perubahan kapasitas juga terungkap pembelajaran apa yang bisa dipetik pada program JICA CDP, termasuk mengungkap kekosongan-kekosongan peran yang dihadapi oleh para CF. Beberapa kelemahan yang disampaikan oleh CF adalah proses maintenance mekanisme fasilitasi masyarakat yang dihadapi oleh CF adalah pada penguatan-penguatan ketahanan ekonomi, selain ketahanan sosial, dan lingkungan. Selain itu, mekanisme kolaborasi perencanaan pembangunan komunitas belum diperankan secara memadai oleh para aktor, di sejumlah pihak belum terinternalisasi apa yang menjadi substansi dari Perbub No. 1 tahun 2012 tentang mekanisme perencanaan berbasis kolaborasi dan prakarsa komunitas lokal.
Selain perubahan kapasitas juga terungkap pembelajaran apa yang bisa dipetik pada program JICA CDP, termasuk mengungkap kekosongan-kekosongan peran yang dihadapi oleh para CF. Beberapa kelemahan yang disampaikan oleh CF adalah proses maintenance mekanisme fasilitasi masyarakat yang dihadapi oleh CF adalah pada penguatan-penguatan ketahanan ekonomi, selain ketahanan sosial, dan lingkungan. Selain itu, mekanisme kolaborasi perencanaan pembangunan komunitas belum diperankan secara memadai oleh para aktor, di sejumlah pihak belum terinternalisasi apa yang menjadi substansi dari Perbub No. 1 tahun 2012 tentang mekanisme perencanaan berbasis kolaborasi dan prakarsa komunitas lokal.
Para CF pun sempat mengklarifikasi bahwa upaya fasilitasi masyarakat yang dilakukan sepenuhnya adalah inisiatif sendiri dalam rangka menerapkan pendekatan yang didapatkan selama Diklat JICA CDP (bekerjasama dengan Bappeda Kab. Wakatobi), tanpa mendapatkan dukungan (pendanaan) dari pihak manapun selama masa implementasi hasil-hasil Diklat yang mereka lakukan.
(Catatan Sunarwan Asuhadi)
(Catatan Sunarwan Asuhadi)



0 comments:
Posting Komentar