Kalau tidak salah ingat, pada tahun 2010-an, kita pernah mengenal laptop/notebook yang ber-merk Wakatobi, namun sekarang rasa-rasanya tak lagi populer.
Saat ini, jika anda searching di google tentang produk ber-merk Wakatobi, mungkin yang paling banyak anda akan temukan adalah produk aneka tas dengan branding Wakatobi, misalnya di tokopedia, blibli.com, mungkin juga di toko online lainnya.
Saat ini, jika anda searching di google tentang produk ber-merk Wakatobi, mungkin yang paling banyak anda akan temukan adalah produk aneka tas dengan branding Wakatobi, misalnya di tokopedia, blibli.com, mungkin juga di toko online lainnya.
Mungkin ada produk lainnya selain tas, tapi tak se-trending produk tas di mesin pencarian google.
Terus, kita juga menemukan ada kapal yang melabeli namanya dengan Wakatobi, yakni kapal milik perusahan pelayaran Indonesia yang menyediakan solusi transportasi “point-to-point”, yakni Meratus, dalam hal ini kapalnya bernama Meratus Wakatobi.
Sementara itu, yang paling terkenal justru datang dari dunia hotel dan resort, yakni PT Wakatobi Dive Resort (WDR). Bahkan pihak yang memiliki andil dan patut diperhitungkan dalam mempopulerkan Wakatobi di dunia internasional adalah PT Wakatobi Dive Resort sejak awal tahun 2000-an .
Tentu saja, ada Taman Nasional Wakatobi, Cagar Biosfer Wakatobi, mungkin juga nanti ada Badan Otorita Pariwisata (BOP) Wakatobi.
Itulah sejumlah branding Wakatobi, mulai dari produk industri, jasa, maupun regulasi.
Lalu bagaimana dengan branding produk di dunia penelitian/perekayasaan?
Adalah Loka Penelitian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) BRSDM KP, dalam dua tahun terakhir ini aktif mempromosikan output kegiatan perekayasaan di bidang pengawasan dan konservasi laut.
Adapun branding produk perekayasaan yang dimaksud adalah WakatobiAIS dan Wakatobi Sea Bamboo.
WakatobiAIS merupakan akronim dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Objek Berbasis Informasi AIS (Automatic Identification System).
Wakatobi AIS dibuat atas identifikasi terhadap tiga masalah utama yang dihadapi nelayan dalam melaut. Pertama, kurangnya kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan.
Kedua, perlunya peningkatan keterpantauan armada-armada nelayan tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi SDA yang berkelanjutan, sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat para nelayan mengalami musibah di laut.
Ketiga, sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di laut, sehingga tertundanya upaya penyelamatan sehingga tak jarang ditemukan kasus nelayan yang hilang atau terdampar saat melaut.
Sementara itu, Wakatobi Sea Bamboo merupakan akronim dari Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota (Wakatobi) Sea Bamboo.
Sea Bamboo atau bambu laut merupakan salah satu karang jenis oktokoral yang hidup di perairan tropis Indo – Pasifik. Oktokoral, merupakan biota penyusun terumbu karang kedua sesudah karang batu.
Bambu Laut pada tahun 2014 ditetapkan dalam status perlindungan terbatas melalui Kepmen-KP No. 46/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Bambu Laut (Isis spp.).
Pada tahun 2020 status tersebut berubah menjadi status penuh melalui PermenKP No. 8/KEPMEN-KP/2020 tentang Perlindungan Penuh Bambu Laut atau Sea Bamboo.
Wakatobi Sea Bamboo merupakan nama teknologi yang dihasilkan oleh LPTK yang mengintegrasikan antara restorasi bambu laut di lokasi ex-situ (laboratorum) dengan lokasi in-situ (perairan laut).
Kalau ada pertanyaan, kenapa produk perekayasaannya menggunakan branding Wakatobi? Ya, silahkan tanya ke LPTK ! Mungkin karena kantornya berdomisili di Wakatobi atau apresiasi LPTK BRSDM KP terhadap kondisi sumberdaya Wakatobi yang banyak menjadi inspirasi riset dan perekayasaan atau mungkin ada alasan lainnya.
Lalu apa pentingnya branding Wakatobi bagi Wakatobi dan produk yang dihasilkan?
Tentu, masing-masing kita punya alasan, namun setidak-tidaknya branding tersebut diharapkan dapat memberikan image positif terhadap Wakatobi maupun produk yang dibuat, selanjutnya menghasilkan ketertarikan terhadap Wakatobi atau produk yang diperkenalkan, puncaknya adalah datang ke Wakatobi atau silahkan miliki produk ber-branding Wakatobi. [MN].
Ayo #CeritakanWakatobi !
Terus, kita juga menemukan ada kapal yang melabeli namanya dengan Wakatobi, yakni kapal milik perusahan pelayaran Indonesia yang menyediakan solusi transportasi “point-to-point”, yakni Meratus, dalam hal ini kapalnya bernama Meratus Wakatobi.
Sementara itu, yang paling terkenal justru datang dari dunia hotel dan resort, yakni PT Wakatobi Dive Resort (WDR). Bahkan pihak yang memiliki andil dan patut diperhitungkan dalam mempopulerkan Wakatobi di dunia internasional adalah PT Wakatobi Dive Resort sejak awal tahun 2000-an .
Tentu saja, ada Taman Nasional Wakatobi, Cagar Biosfer Wakatobi, mungkin juga nanti ada Badan Otorita Pariwisata (BOP) Wakatobi.
Itulah sejumlah branding Wakatobi, mulai dari produk industri, jasa, maupun regulasi.
Lalu bagaimana dengan branding produk di dunia penelitian/perekayasaan?
Adalah Loka Penelitian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) BRSDM KP, dalam dua tahun terakhir ini aktif mempromosikan output kegiatan perekayasaan di bidang pengawasan dan konservasi laut.
Adapun branding produk perekayasaan yang dimaksud adalah WakatobiAIS dan Wakatobi Sea Bamboo.
Sumber: LPTK BRSDM KP
WakatobiAIS merupakan akronim dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Objek Berbasis Informasi AIS (Automatic Identification System).
Wakatobi AIS dibuat atas identifikasi terhadap tiga masalah utama yang dihadapi nelayan dalam melaut. Pertama, kurangnya kesiapan operasi nelayan dalam hal penguasaan informasi mengenai kondisi meteorologi di area target penangkapan ikan.
Kedua, perlunya peningkatan keterpantauan armada-armada nelayan tradisional oleh otoritas di darat untuk mendukung ekstraksi SDA yang berkelanjutan, sekaligus sebagai data penting dalam proses rescue saat para nelayan mengalami musibah di laut.
Ketiga, sulitnya nelayan tradisional dalam mengabarkan kondisi darurat yang mereka alami akibat terbatasnya moda komunikasi di laut, sehingga tertundanya upaya penyelamatan sehingga tak jarang ditemukan kasus nelayan yang hilang atau terdampar saat melaut.
Sementara itu, Wakatobi Sea Bamboo merupakan akronim dari Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota (Wakatobi) Sea Bamboo.
Sea Bamboo atau bambu laut merupakan salah satu karang jenis oktokoral yang hidup di perairan tropis Indo – Pasifik. Oktokoral, merupakan biota penyusun terumbu karang kedua sesudah karang batu.
Bambu Laut pada tahun 2014 ditetapkan dalam status perlindungan terbatas melalui Kepmen-KP No. 46/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Bambu Laut (Isis spp.).
Pada tahun 2020 status tersebut berubah menjadi status penuh melalui PermenKP No. 8/KEPMEN-KP/2020 tentang Perlindungan Penuh Bambu Laut atau Sea Bamboo.
Wakatobi Sea Bamboo merupakan nama teknologi yang dihasilkan oleh LPTK yang mengintegrasikan antara restorasi bambu laut di lokasi ex-situ (laboratorum) dengan lokasi in-situ (perairan laut).
Kalau ada pertanyaan, kenapa produk perekayasaannya menggunakan branding Wakatobi? Ya, silahkan tanya ke LPTK ! Mungkin karena kantornya berdomisili di Wakatobi atau apresiasi LPTK BRSDM KP terhadap kondisi sumberdaya Wakatobi yang banyak menjadi inspirasi riset dan perekayasaan atau mungkin ada alasan lainnya.
Lalu apa pentingnya branding Wakatobi bagi Wakatobi dan produk yang dihasilkan?
Tentu, masing-masing kita punya alasan, namun setidak-tidaknya branding tersebut diharapkan dapat memberikan image positif terhadap Wakatobi maupun produk yang dibuat, selanjutnya menghasilkan ketertarikan terhadap Wakatobi atau produk yang diperkenalkan, puncaknya adalah datang ke Wakatobi atau silahkan miliki produk ber-branding Wakatobi. [MN].
Ayo #CeritakanWakatobi !



0 comments:
Posting Komentar