Di Kabupaten Wakatobi - Sulawesi Tenggara, terdapat
banyak komunitas suku Bajo yang tersebar di beberapa tempat atau wilayah
perairan.
Kedatangan suku Bajo ke Wakatobi bermula pada zaman kesultanan Buton
dan diterima secara adat oleh penduduk lokal, penerimaan ini ditandai dengan
menunjukkan tempat-tempat untuk bermukim masyarakat Bajo serta adanya
perlindungan adat.
Lokasi bermukim masyarakat Bajo antara lain; Bajo Mola
bermukim di sekitar perairan Wangi-Wangi atau Wanci, Bajo Sampela, Lohoa dan
Mantigola bermukim di perairan Kecamatan Kaledupa, dan bajo Lamanggau bermukim
di perairan Kecamatan Tomia.
Bagi masyarakat Bajo, laut merupakan ladang,
karena dari lautlah mereka makan dan memenuhi kehidupan lainnya. Tradisi
nomaden tidak melunturkan kebudayaan atau tradisi masyarakat Bajo itu sendiri, seperti
tradisi pengobatan tradisional yang disebut dengan tradisi ”duata”.
Tradisi
duata adalah puncak dari segala upaya pengobatan tradisional suku Bajo. Tradisi
ini dilakukan jika ada salah satu diantara mereka mengalami sakit keras dan tak
lagi dapat disembuhkan dengan cara lain termasuk pengobatan medis.
Kata “duata”
sendiri merupakan kata saduran dari sebutan dewata. Dalam keyakinan masyarakat
Bajo duata adalah dewa yang turun dari langit dan menjelma menjadi sosok
manusia.
Dalam kehidupan masyarakat Bajo saat ini pelaksanaan tradisi duata
tidak terbatas pada prosesi pengobatan tetapi juga dapat dilakukan dalam acara
syukuran dan hajatan sebagai bentuk penghargaan pada penguasa laut yang mereka
sebut sebagai Mbo Janggo atau Mbo Gulli.
Selasa, 12 Oktober 2021
Oktober 12, 2021
Kabar MEAKA
Wakatobi;Duata;Sosial;Bajo
No comments


0 comments:
Posting Komentar